Senyum Terakhir dan Urusan yang Belum Selesai

by - 12:00 AM

Saya baru sadar, ngobrol tentang sakaratul maut itu capek. Bukan capek secara fisik—walau jari juga pegal ngetik—tapi capek batin. Topik ini seperti mengaduk endapan paling bawah: hal-hal yang jarang kita sentuh, tapi menentukan bagaimana seseorang pergi.

Belakangan, saya sering memikirkan satu hal sederhana: mengapa cerita akhir hidup seseorang sering berubah jadi kisah absurd, penuh label, penuh prasangka, berdiri di atas pondasi batin yang rapuh?

Dan seperti biasa, saya tidak datang sebagai ustaz, bukan pula sebagai orang suci. Saya datang sebagai saya—orang yang dagang daster, pernah hampir mati karena diare, dan terlalu sering berpikir ke mana-mana.


Senyum, Muram, dan Kebiasaan Memberi Label

Di lingkungan kami, ada pemahaman yang nyaris baku:
orang yang meninggal dengan wajah tenang atau tersenyum disebut husnul khotimah.
Sebaliknya, yang wafat dengan wajah muram, kesakitan, atau “susah mati”, cepat-cepat diberi label suul khotimah.

Label ini terdengar rapi. Menenangkan yang hidup. Memberi ilusi bahwa hidup bisa dirangkum dengan satu ekspresi wajah di detik terakhir.

Masalahnya, hidup jarang serapi itu.

Saya tidak sepenuhnya menolak atau menerima tafsir tersebut. Saya hanya… usil sedikit. Karena pengalaman mengajarkan hal lain: yang menentukan akhir seseorang seringkali bukan soal dosa-pahala semata, tapi urusan batin yang sudah atau belum selesai.


Bu Hajah dan Urusan yang Mengganjal

Saat pandemi Covid, saya mengalami satu peristiwa yang mengubah cara pandang saya. Saya diminta membantu memandu seseorang yang sedang sakaratul maut. Seorang ibu, alim, hajah, rajin ibadah, relasinya baik. Secara “profil”, harusnya wafat dengan tenang.

Nyatanya tidak.

Ia gelisah. Napas berat. Wajah menegang. Keluarga bingung. Ada yang berbisik, “Jangan-jangan punya pegangan?” Ada yang curiga wafak. Ia hanya menggeleng lemah.

Saya maju bukan karena paham agama, tapi karena kebetulan ada. Saya bertanya pelan, sangat pelan, seperti berbicara pada batin:

“Bu, apakah masih ada yang ibu khawatirkan? Anak? Cucu?”

Matanya bergerak pelan. Dari bisik-bisik keluarga, muncul satu nama cucu yang sangat ia sayangi.

Cucu itu dipanggil, duduk di sampingnya. Saya berkata sederhana:

“Bu, cucu ibu baik-baik saja. Kami semua di sini.”

Saya lalu meminta keluarga memastikan—bukan ke saya, tapi ke batin ibu itu—bahwa cucunya akan dijaga, diperhatikan, diperlakukan dengan layak.

Jawaban mereka serempak.

Dan di titik itu, sesuatu berubah. Wajah bu hajah melunak. Ia tersenyum kecil. Napasnya teratur. Saya pandu syahadat terakhir, dan ia pergi.

Saat itu saya menangis. Bukan karena religius, tapi karena satu hal: ternyata yang mengganjal bukan dosa besar, bukan sihir, bukan pegangan gaib. Hanya cinta yang belum aman.


Tentang Orang Alim yang “Susah Mati”

Saya juga pernah melihat orang alim yang wafat dengan sangat berat. Tubuhnya seperti menahan sakit luar biasa. Lingkungan kami cepat menyimpulkan: pasti ada apa-apanya.

Saya justru melihatnya berbeda. Bisa jadi, orang ini belum selesai dengan batinnya. Bukan karena ia jahat, tapi karena ada urusan yang belum tuntas—relasi, rasa bersalah, atau ekspektasi yang tak pernah sempat dibereskan.

Sebaliknya, ada cerita tentang pelacur yang wafat dengan wajah tenang. Orang bingung. Lalu sibuk mencari pembenaran teologis.

Bagi saya, bisa jadi penjelasannya lebih sederhana dan lebih manusiawi: kematian adalah jeda dari hidup yang selama ini menyakitkan. Tidak ada lagi yang harus ditanggung. Tidak ada lagi peran yang dipaksakan.

Tenang bukan selalu tanda suci. Gelisah bukan selalu tanda hina.


Pengalaman Hampir Mati dan Keheningan Aneh

Saya sendiri pernah hampir mati. Sakarat tepatnya. Diare parah. Tubuh lemas. Pandangan kabur. Muncul bayangan keluarga yang sudah meninggal.

Anehnya, saya tersenyum. Bukan karena bahagia, tapi karena… kosong. Tidak ada yang perlu dipikirkan. Saya pasrah. Membaca doa seadanya. Menerima bahwa mungkin ini akhir.

Ternyata bukan. Tubuh diberi kesempatan lagi. Saya hidup. Beranak pinak. Dagang daster. Narik Grab. Masuk pemerintahan, lalu keluar lagi.

Sekarang, kalau jujur, mati mungkin terasa lebih berat. Ada anak. Ada istri. Ada relasi yang intim. Tapi saya belajar satu hal: berat bukan berarti tidak siap.

Siap bukan berarti tidak sedih. Siap berarti tidak berperang dengan diri sendiri.


Nabi, Umat, dan Kenakalan yang Kena Rotan

Dulu, di asrama, ustaz menceritakan bahwa Rasulullah di akhir hayatnya masih memikirkan umatnya. Kalimat ini selalu ditutup dengan pujian tentang cinta beliau yang luar biasa.

Saat sesi tanya jawab, kenakalan saya muncul lebih cepat dari akal sehat:

“Pak, kenapa Nabi di akhir hayat malah mikirin orang lain? Bukannya beliau sudah menyelesaikan tugasnya? Apa beliau tidak mati dengan tenang?”

Hadiah langsung turun: rotan mencium paha.

Belakangan—jauh setelah rotan itu—saya paham. Memikirkan orang lain bukan tanda batin yang belum selesai, tapi tanda batin yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Ayah saya meninggal dengan tenang, dikelilingi keluarga. Tidak memikirkan yang lain, karena lingkar cintanya sudah hadir dan aman. Rasul memikirkan umat, karena lingkar cintanya jauh lebih luas.

Skalanya berbeda. Bukan nilainya.


Penutup: Saat Waktu Itu Datang

Saya tidak tahu nanti bagaimana wajah saya saat mati. Tersenyum atau tidak. Tenang atau biasa saja. Saya tidak mengejar label husnul khotimah.

Yang saya kejar hanya satu hal: berdamai dengan diri sendiri.

Kalau nanti saya memanggil orang tersayang, itu karena cinta.
Kalau nanti saya diam, itu karena selesai.
Kalau nanti saya tersenyum, itu bukan untuk penonton—karena saat itu, saya tidak lagi bermain peran.

Dan semoga, cerita akhir hidup saya tidak menjadi kisah absurd yang dibangun di atas batin yang berantakan. Cukup sebagai penutup yang wajar, manusiawi, dan jujur.

Karena mati, seperti hidup, seharusnya tidak perlu terlalu banyak drama.

You May Also Like

0 komentar