Timeline Orang, Kamar Tidur Orang

by - 12:00 AM

Saya belakangan sering melihat timeline istri orang lain. Isinya rapi, manis, penuh potongan hikmah tentang “suami ideal”, “suami yang seharusnya begini”, “kalau suami sayang istri maka…”. Awalnya saya anggap itu sekadar konten lewat. Tapi makin sering muncul, kok rasanya bukan cuma lewat. Ada pola. Ada nada. Ada kebutuhan yang sedang bicara diam-diam.

Di kepala saya muncul tafsir yang mungkin agak sinis, tapi jujur: orang jarang membahas sesuatu kalau hal itu sudah selesai dalam hidupnya. Kita tidak googling “cara bernapas” kalau paru-paru baik-baik saja. Kita tidak rajin share nasihat tentang kesetiaan kalau hati sedang adem. Yang bergerak biasanya adalah yang terganggu. Yang resah. Yang sedang mencari pegangan.

Saya lalu membandingkan—dan ya, ini bagian paling tidak sopan tapi reflektif. Istri saya tidak pernah membaca, apalagi membagikan, konten tentang kewajiban suami. Bukan karena saya malaikat, tentu tidak. Tapi mungkin karena dalam keseharian, kebutuhannya tidak sedang berteriak. Yang ia ributkan justru hal-hal praktis: promo, campaign, stok, dan kenapa emak-emak itu ngeselin banget. Di situ saya paham, fokus orang sering jujur menunjukkan medan tempurnya.

Saya tidak bilang semua yang share konten “suami ideal” pasti rumah tangganya bocor. Bisa saja itu pengingat. Bisa saja itu refleksi sehat. Tapi tetap saja, yang menggerakkan jari untuk share adalah rasa relevan. Orang tidak menempel plester di kulit yang tidak luka. Dan timeline, bagi saya, sering lebih jujur daripada obrolan arisan.

Yang menarik, realitas semacam ini sering dibangun tanpa disadari. Dengan membagikan konten ideal, seseorang sedang menciptakan dunia alternatif: dunia yang rapi, normatif, penuh kalimat “seharusnya”. Dunia itu menenangkan, setidaknya sementara. Seperti placebo emosional. Tidak menyembuhkan akar, tapi membuat hati bisa bernapas sebentar.

Saya jadi hati-hati menilai. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk memahami. Barangkali itu cara mereka bertahan. Cara mereka berkata tanpa berkata. Dan saya juga sadar, saya pun membangun realitas versi saya sendiri—melalui artikel, obrolan, dan tawa sinis yang saya pelihara agar kepala tetap waras.

Kesimpulan kecil saya sederhana dan agak usil: timeline orang itu bukan etalase kebahagiaan, tapi peta kebutuhan. Yang sering dibagikan biasanya bukan yang sudah utuh, melainkan yang sedang dicari. Dan mungkin, tugas saya bukan ikut mengomentari, tapi memastikan kamar tidur saya sendiri tetap hangat—tanpa perlu mengumumkannya ke publik.

You May Also Like

0 komentar