Ayah Marah, Tapi Tidak Jadi Monster
Saya sering mengajak anak saya ngobrol di perjalanan berangkat atau pulang sekolah. Obrolannya ringan, kadang receh, kadang melebar ke hal-hal yang bahkan saya sendiri baru kepikiran di situ. Tentang teman di kelas, pelajaran yang bikin dahi berkerut, atau perasaan aneh yang datang tanpa undangan. Saya membiarkannya bicara apa saja. Marah, sedih, senang, kesal, cemburu—semuanya boleh lewat. Satu-satunya pagar yang saya pasang cuma dua: jangan menyakiti diri sendiri, dan jangan menyakiti orang lain. Selebihnya, silakan emosi itu duduk dulu, kita kenalan pelan-pelan.
Saya sadar, anak tidak belajar emosi dari teori. Anak belajar dari melihat. Maka saya tidak terlalu sibuk jadi ayah yang selalu kelihatan sabar. Saya memilih jadi ayah yang jujur. Kalau ada pengendara lain memotong jalur dan membahayakan, saya pencet klakson. Bukan karena ingin berkelahi, tapi karena ingin mengingatkan. Anak saya pernah menoleh dan bertanya, “Ayah marah?” Saya tidak menyangkal. Saya jawab iya, ayah marah. Lalu saya selipkan umpatan yang aman di telinga anak kecil: “Dasar kucing garong, nyetir kok sembarangan.” Anak saya tertawa. Marahnya selesai di situ. Tidak saya simpan, tidak saya bawa pulang.
Di titik itu saya sadar, saya sedang membangun sebuah realitas kecil di kepala anak saya. Realitas bahwa marah itu boleh ada, boleh diakui, tapi tidak harus meledak jadi kekerasan. Marah tidak otomatis membuat seseorang jadi jahat. Marah bisa lewat, diperingatkan, lalu pergi. Anak saya tidak belajar bahwa ayahnya selalu sabar. Anak saya belajar bahwa ayahnya bisa marah, tapi tahu kapan berhenti.
Saya juga sadar ini bukan pola sempurna. Ini penuh bias manusia. Umpatan saya bukan kitab suci, dan klakson saya bukan fatwa. Tapi saya memilih bias yang masih manusiawi dibanding kepura-puraan yang rapi di luar tapi bocor di dalam. Saya tidak ingin anak saya tumbuh dengan bingung: melihat orang tuanya marah tapi dilarang mengaku marah. Saya ingin ia paham sejak awal bahwa emosi bukan musuh, hanya tamu yang perlu diperlakukan dengan sopan.
Pelan-pelan saya melihat efeknya. Anak saya berani bertanya, berani bilang “aku kesal”, berani bilang “aku bingung”. Relasi kami tidak retak hanya karena satu emosi lewat. Saya tidak sedang mencetak anak paling santun sedunia. Saya sedang menemani satu manusia kecil belajar mengenali dirinya sendiri, tanpa harus takut pada perasaannya.
Dan di situ saya merasa cukup. Tidak euforia, tidak heroik. Cukup jernih. Karena mungkin tugas orang tua bukan menghapus emosi anak, tapi memastikan emosi itu tumbuh di ruang yang aman. Bahkan kalau sesekali, di dalamnya, ada ayah yang marah sambil menyebut orang lain kucing garong.
0 komentar