Sehelai Daster, Satu Hihi, dan Kesadaran Kecil yang Tidak Perlu Dirayakan
Saya baru sadar belakangan ini, bukan lewat tepuk tangan atau pujian besar, tapi lewat reaksi yang jauh lebih sederhana: orang merasa sedikit lebih ringan setelah bertemu saya.
Bukan dramatis.
Tidak ada musik latar.
Tidak ada momen “wah gue berarti”.
Hanya jeda kecil di kepala, lalu muncul satu kalimat yang bahkan tidak saya ucapkan keras-keras:
“Oh… saya bermanfaat ya di kamu?”
Hihi.
Lucunya, kesadaran itu tidak datang saat saya berusaha menjadi penting. Justru muncul ketika saya sedang sibuk jadi diri sendiri—jadi host live daster, jadi tempat emak-emak random numpang napas sebentar, jadi pria yang lelah tapi masih mau ngomong pelan.
Saya tidak menyembuhkan siapa-siapa.
Saya tidak mengubah hidup orang.
Saya bahkan tidak jadi badut.
Saya hanya hadir dengan nada yang tidak menambah beban.
Dan ternyata, itu mahal.
Saya lihat sendiri polanya. Emak-emak tidak datang untuk ditertawakan, tapi juga tidak mau dituntun dengan gaya ceramah. Mereka cuma ingin diakui capeknya, ditenangkan sebentar, lalu kembali ke hidup yang tetap ribet. Kalau di sela itu ada daster kebeli, ya syukur. Kalau tidak pun, batin sudah agak adem.
Saya sering meledek diri sendiri, “kalau saya jadi ibu-ibu, mungkin sudah jadi mak lampir.”
Mereka ketawa.
Bukan karena lucunya tinggi, tapi karena jujurnya kena.
Teman-teman saya juga mulai curhat.
Saya sempat mikir: ini kok kayak jadi psikolog dadakan ya?
Padahal saya cuma pendengar yang tidak sibuk menang.
Dan di situ saya paham: manfaat itu tidak selalu datang dari solusi. Kadang cukup dari tidak menambah tekanan.
Yang paling lucu, kesadaran ini tidak bikin saya euforia. Tidak ada hasrat untuk dipertahankan, apalagi dipamerkan. Rasanya malah seperti nemu uang dua ribu di saku celana lama—tidak mengubah hidup, tapi bikin senyum kecil sebelum lanjut jalan.
Saya tidak sedang jadi lebih hebat.
Saya hanya berhenti memaksa diri untuk terlihat penting.
Dan mungkin, di dunia yang ribut ini, itu sudah lebih dari cukup.
Hihi.
0 komentar