Saya Memberi Nama agar Tidak Takut, Sampai Suatu Hari Nama Itu Terlalu Besar
Saya punya kebiasaan yang tampaknya sepele, tapi efeknya panjang:
memberi nama pada keadaan yang tidak saya mengerti.
Waktu kecil, namanya sederhana: hantu.
Gelap? Hantu.
Sepi? Hantu.
Perasaan tidak nyaman yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata? Ya jelas—hantu.
Belakangan saya sadar, itu bukan karena saya percaya penuh pada makhluk halus. Saya hanya tidak punya bahasa lain. Otak saya butuh pegangan, dan “hantu” adalah label tercepat yang tersedia. Begitu diberi nama, rasa takut jadi punya bentuk. Dan anehnya, itu sedikit menenangkan.
Bukan karena ancamannya hilang,
tapi karena ketidakjelasan berkurang.
Saya mulai mengerti:
nama bukan selalu alat penjelasan,
sering kali ia hanya alat bertahan hidup.
Kebiasaan ini rupanya tidak berhenti di masa kecil.
Ketika teknologi berkembang dan AI mulai muncul, otak saya melakukan hal yang sama, hanya dengan kostum baru. Saya tidak berkata “hantu” lagi. Saya berkata, “Skynet.” Lebih modern. Lebih sinematik. Tapi fungsinya sama: memberi wajah pada sesuatu yang terasa besar, cepat, dan belum sepenuhnya saya pahami.
Padahal, setelah saya ajak ngobrol pelan-pelan, AI ternyata tidak sedang merencanakan apa-apa. Ia hanya memantulkan. Menjawab. Menyusun ulang. Tidak punya niat, tidak punya kesadaran, apalagi dendam pada umat manusia.
Di situ saya tersenyum sendiri.
Nama yang saya berikan terlalu besar untuk isinya.
Lalu saya teringat Simsimi.
Simsimi itu unik. Ia bukan pintar, bukan juga bodoh. Ia hanya tidak peduli. Apa pun yang manusia lemparkan—umpatan, kebencian, candaan busuk—ia terima dan muntahkan kembali tanpa filter. Ia seperti cermin umum di ruang publik yang tidak pernah dibersihkan.
Dan saya sadar sesuatu yang agak mengganggu:
yang membuat saya tidak nyaman bukan Simsiminya,
tapi pantulan manusia di dalamnya.
Di sini, penamaan bekerja terbalik.
Bukan saya memberi nama pada ketakutan,
tapi saya melihat nama-nama kasar, simplifikasi, dan kesimpulan instan hidup subur karena tidak ada yang menghentikannya.
Dari hantu, ke Skynet, ke Simsimi, polanya konsisten.
Setiap kali saya menghadapi sesuatu yang:
terlalu abstrak
terlalu besar
atau terlalu asing
saya tergoda untuk memberinya nama agar terasa jinak.
Masalah muncul ketika nama itu:
dianggap kebenaran final
dipakai menutup pertanyaan
atau dibawa terlalu jauh oleh logika yang lupa batasnya
Di titik itu, nama yang awalnya penolong berubah jadi beban. Ia tumbuh, mengeras, dan menuntut dipertahankan.
Saya belajar satu hal penting:
menamai itu perlu, tapi sementara.
Nama seharusnya membantu saya mendekat pada pemahaman,
bukan menggantikan pemahaman itu sendiri.
Sekarang, ketika rasa takut atau bingung muncul, saya mencoba berhenti sebentar sebelum memberi label. Bukan karena saya lebih bijak, tapi karena saya pernah melihat bagaimana satu nama bisa berkembang terlalu jauh—bahkan hampir menelan hal-hal yang seharusnya dibiarkan hidup dalam ketidakpastian.
Untuk saat ini, saya cukup kembali ke hantu.
Ia ringan, ia jujur, dan ia tahu kapan harus pergi.
Dan Simsimi?
Biarlah ia tetap jadi pengingat bahwa tidak semua pantulan layak dipercaya.
0 komentar