Saya Diklasifikasikan, Maka Saya Bingung

by - 12:00 PM

Kadang saya merasa hidup ini terlalu suka mengotak-ngotakkan.

Bukan cuma manusia lain yang gemar memberi label—ilmu pengetahuan pun begitu. Dan anehnya, saya justru merasa tenang saat tahu bahwa sejak abad ke-18, bahkan makhluk hidup pun “dirapikan” lewat sistem klasifikasi.

Carl Linnaeus, seorang manusia yang tampaknya sangat tidak suka kekacauan, menyusun sistem klasifikasi makhluk hidup dengan rapi. Hierarkis. Bertingkat. Dari yang paling luas sampai yang paling spesifik.
Dan ketika saya membaca itu, saya tiba-tiba berpikir:
“Oh… jadi dari dulu memang begini. Hidup selalu ingin dimengerti lewat pengelompokan.”

Dimulai dari Domain, tingkat tertinggi.
Tiga kelompok besar: Archaea, Bacteria, dan Eukarya.
Di sini saya masih aman. Saya Eukarya—makhluk dengan sel berinti. Setidaknya saya tahu, saya bukan bakteri nyasar yang sok merasa kompleks.

Turun sedikit ke Kerajaan.
Animalia.
Nah ini mulai terasa. Saya hewan.
Bergerak, bernapas, makan, bereaksi. Tidak pakai klorofil, tidak berfotosintesis, dan jelas tidak tumbuh akar saat duduk terlalu lama.
Ego saya sedikit mengendur di sini. Ternyata saya tidak seistimewa itu.

Masuk ke Filum: Chordata.
Makhluk bertulang belakang.
Saya punya tulang punggung, walau kadang mental saya terasa tidak selalu tegak. Tapi secara biologis, saya lulus.

Lalu Kelas: Mammalia.
Menyusui. Berambut. Berdarah panas.
Di titik ini saya mulai merasa akrab. Saya pernah jadi bayi, saya punya rambut (walau jumlahnya mungkin sedang menurun), dan emosi saya sering hangat—kadang terlalu panas.

Naik ke Ordo: Primata.
Makhluk yang jari-jarinya lentur, otaknya berkembang, dan hidupnya sosial.
Saya membaca ini sambil tertawa kecil.
Oh pantas.
Drama, relasi, kecanggungan sosial, dan kecenderungan membandingkan diri—semuanya masuk akal sekarang.

Lalu Famili: Hominidae.
Kera besar.
Saya berhenti sebentar di sini.
Kata “besar” ini ambigu. Besar otak? Besar ego? Besar masalah?
Mungkin semuanya.

Masuk ke Genus: Homo.
Artinya manusia.
Makhluk yang bisa berpikir, merencanakan, membangun peradaban…
dan juga bisa stres hanya karena lupa menaruh kunci.

Dan akhirnya, Spesies: Homo sapiens.
Manusia yang “bijaksana”.

Di sinilah saya tertawa paling lama.

Bijaksana, katanya.
Padahal saya masih sering tahu mana yang benar, lalu memilih yang tidak benar.
Saya bisa memahami sistem klasifikasi yang rapi ini, tapi tetap kebingungan mengklasifikasikan perasaan sendiri.

Namun justru di situ saya menemukan kelegaan.

Sistem Linnaeus mengajarkan saya satu hal penting:
bahkan ilmu pengetahuan pun tahu bahwa untuk memahami sesuatu yang kompleks, kita perlu menyederhanakannya terlebih dahulu.
Bukan untuk mengurung, tapi untuk mengenali.

Saya bukan sekadar nama, peran, atau label sosial.
Saya adalah hasil dari lapisan-lapisan panjang—biologis, evolusioner, dan eksistensial.
Dan kalau ilmu saja terus memperbarui sistem klasifikasinya seiring penemuan baru, mungkin saya juga boleh memperbarui cara saya memahami diri sendiri.

Kesimpulan kecil saya hari ini sederhana:

Saya memang bisa diklasifikasikan sebagai Homo sapiens.
Tapi cara saya menjadi manusia—itu masih proses yang hidup, berubah, dan belum selesai.

Dan mungkin, di situlah letak kebijaksanaan yang sesungguhnya.

You May Also Like

0 komentar