Hantu yang Kalah oleh Excavator (dan Menang karena Dikeramatkan)
Dulu, di kampung saya ada mata air. Airnya jernih, dingin, dan katanya bisa menyembuhkan macam-macam penyakit. Lebih tepatnya: katanya. Tempat itu dikeramatkan. Orang-orang bilang, itu tempat mandi hantu.
Sebagai anak kampung yang setiap hari dicekoki cerita hantu, tentu saja saya percaya. Bukan percaya setengah-setengah. Percaya sepenuh badan. Masuk ke area mata air itu, bulu kuduk saya berdiri tanpa aba-aba. Merindingnya bukan tipe “dingin”, tapi tipe “ini tempat tidak untuk manusia”.
Sekarang saya paham, waktu itu saya sedang membangun realitas sendiri. Pondasinya sederhana: tempat ini angker. Jadi tubuh saya nurut. Pikiran bilang bahaya, badan ikut tegang. Hantu belum muncul pun saya sudah ketakutan duluan. Hahaha.
Belasan tahun berlalu. Saya pulang ke kampung.
Mata air itu masih ada. Tapi… sudah pakai tiket masuk.
Sudah ada kolam renang.
Sudah ada pelampung warna-warni.
Sudah ada warung mi instan dan kopi sachet.
Hantunya? Entah ke mana.
Lalu suatu hari, terdengar kabar: terjadi longsor di dekat area wisata itu. Orang-orang berbisik, “Hantu marah.”
Saya nyengir kecil.
Iya, hantu marah.
Atau versi yang lebih membumi: bumi capek.
Lereng digunduli. Pohon ditebang. Tanah dibiarkan telanjang. Air dialirkan seenaknya. Alam yang tadinya dijaga oleh rasa takut, sekarang diserahkan pada logika untung-rugi.
Wisatanya pelan-pelan sepi. Orang malas datang. Tempat yang dulu “sakral”, sekarang jadi “bekas”.
Dan di situ saya baru sadar sesuatu yang agak jahat tapi masuk akal:
Mungkin memang paling benar tempat itu dulu dikeramatkan saja.
Bukan karena hantunya galak.
Tapi karena manusia rakus.
Keramat itu ternyata bukan soal mistik.
Keramat itu sistem keamanan paling murah dan efektif di kampung saya.
Tidak perlu pagar, tidak perlu satpam, tidak perlu papan larangan.
Cukup satu kalimat:
“Jangan sembarangan, itu tempat angker.”
Manusia pun patuh.
Kadang saya berpikir, mungkin nenek moyang kita tidak bodoh. Mereka cuma realistis. Mereka tahu, kalau dibilang “jaga alam demi ekosistem”, manusia malas mendengar. Tapi kalau dibilang “nanti kena hantu”, semua langsung sopan.
Dan lucunya, setelah semua dirasionalisasi, dieksploitasi, dan dijadikan objek wisata, yang benar-benar marah bukan hantu—
tapi tanah yang longsor.
air yang berubah.
dan tempat yang kehilangan maknanya.
Saya tertawa kecil sambil menghela napas.
Hantu itu ternyata bukan masalah.
Yang menakutkan justru saat tidak ada lagi yang kita takuti, termasuk keserakahan sendiri.
0 komentar