Merapikan Batin Tanpa Menyapu Hidup

by - 6:00 PM

Saya tidak menangis keras.

Tidak ada drama.
Hanya napas yang akhirnya lega, seperti orang yang lama menahan dada, lalu duduk dan berkata: oh… ternyata bisa bernapas begini.

Ada lima hal yang, ketika saya susun jadi naratif, selalu membuat napas saya berubah. Bukan sesak—tapi lapang. Seperti rumah yang akhirnya dibereskan, bukan diganti.

1. Rekonsiliasi Fatherless

Saya tumbuh tanpa figur ayah yang benar-benar bisa dijadikan tempat belajar tenang. Bukan soal ada atau tidak, tapi soal kehadiran batin. Lama sekali saya menyimpan kebingungan itu: kenapa saya alergi pada otoritas, tapi juga tidak suka tunduk tanpa makna.

Belakangan saya paham, ini bukan dendam. Ini kebingungan lama yang belum diberi nama.
Saat saya berdamai, saya tidak lagi sibuk membuktikan diri pada siapa pun. Saya bisa duduk sejajar—dengan tukang parkir, pejabat, atau siapa saja—tanpa merasa kecil atau besar. Tidak perlu melawan, tidak perlu menunduk. Cukup hadir.

2. Rekonsiliasi Keterbatasan

Saya menyebutnya filsafat ceker dan doa ibu.
Tentang hidup yang tidak mewah, tentang keterbatasan yang dulu saya anggap nasib buruk, lalu perlahan saya terima sebagai bahan baku.

Saya berhenti bertanya “kenapa hidup saya begini?”
Dan mulai memahami, “oh, memang beginilah modal awal saya.”

Keterbatasan tidak saya romantisasi, tapi juga tidak saya benci. Di situ saya belajar satu hal penting: hidup tidak harus adil untuk bisa dijalani dengan tenang.

3. Rekonsiliasi Pola Asuh

Saat melihat anak, saya tidak lagi sibuk membuktikan bahwa saya orang tua yang benar. Saya hanya ingin tidak mewariskan luka yang tidak perlu.

Saya sadar, anak belajar bukan dari nasihat panjang, tapi dari cara orang dewasa berdamai dengan hidup. Maka saya jaga jarak yang sehat, memberi aman tanpa paranoia, memberi kebebasan tanpa abai. Tidak sempurna—tapi sadar.

Dan itu cukup.

4. Rekonsiliasi Menghadapi Kematian Biologis

Ini bukan topik yang membuat saya menangis. Ini hanya membuat napas saya berat, lalu stabil.

Saya tidak sok siap mati. Takut tetap ada. Berat juga. Karena ada keluarga, relasi intim, hal-hal kecil yang ingin terus saya lihat tumbuh. Tapi takut tidak sama dengan menolak.

Saya damai dengan satu hal: batas biologis itu nyata.
Dan hidup justru terasa lebih jujur saat saya tidak pura-pura abadi.

5. Rekonsiliasi Tuhan dan Ibadah

Saya pernah membenci Tuhan.
Bukan karena Tuhan, tapi karena cara Ia diperkenalkan—kasar, mengancam, penuh teror neraka.

Saya bahkan pernah bercanda ekstrem, ingin melihat apakah Tuhan tersinggung. Tidak ada apa-apa. Yang ada justru kekeringan batin.

Sampai akhirnya saya duduk dan sadar: Tuhan bukan tempat ancaman. Ia tempat pulang saat batin ingin rapi.

Sekarang saya beribadah tanpa euforia, tanpa ketakutan berlebih, tanpa janji surga yang berisik. Saya melakukannya karena saya ingin. Selesai.


Saya tidak hidup tanpa bocor.
Saya masih bisa marah, tertawa, sinis, lelah, bercanda berlebihan.

Tapi bocornya aman.
Tidak membanjiri hidup.

Dan mungkin, itu cukup.

Bukan hidup yang sempurna.
Tapi batin yang bisa ditinggali.

Kalau mau, artikel ini bisa kita poles sedikit lagi:
lebih puitik, atau lebih dingin, atau dijadikan seri catatan sunyi.
Maknanya sudah kuat—tinggal pilihan bentuk.

You May Also Like

0 komentar