Keributan yang Terlalu Rapi untuk Disebut Kebetulan (Atau Saya yang Terlalu Sering Jual Daster?)

by - 8:41 PM


Saya tidak tahu sejak kapan pola ini terasa akrab.
Mungkin sejak terlalu sering hidup di layar, atau terlalu lama berdagang di sistem yang membuat manusia tampil apa adanya—tanpa sopan santun, tanpa topeng moral.

Setiap kali ada isu besar: kebijakan publik, nama pejabat, keputusan negara, selalu saja muncul hal lain. Bukan bantahan. Bukan dialog. Tapi keributan.

Kadang bocil bacok orang random.
Kadang internet mati seharian.
Kadang gedung pemerintah kebakaran.
Kadang artis selingkuh, dan entah bagaimana, itu lebih seksi daripada deforestasi ribuan hektar.

Saya tidak sedang menuduh siapa-siapa.
Saya cuma mencatat: kok sering ya pas momennya pas?

Sebagai pedagang daster, saya terbiasa melihat pola.
Order fiktif, akun ternak, retur aneh, pembeli palsu—semuanya tidak pernah datang sendirian. Mereka datang bergerombol, di waktu yang hampir bersamaan, dengan pola yang terlalu mirip untuk disebut kebetulan murni.

Dari situ saya belajar satu hal penting:
kekacauan besar tidak selalu lahir dari niat besar.
Sering kali ia lahir dari celah kecil yang dibiarkan, lalu dipelihara, lalu direplikasi.

Begitu juga di ruang publik.

Ketika diskusi mulai mengarah ke substansi,
tiba-tiba ada sesuatu yang bikin emosi naik.
Bukan untuk menjawab, tapi untuk mengalihkan.

Manusia memang lebih mudah marah daripada berpikir.
Lebih cepat bereaksi daripada membaca.
Lebih betah di drama personal daripada urusan struktural.

Dan jujur saja, saya tidak tahu apakah ini disengaja atau hanya efek samping dari masyarakat yang kelelahan.

Karena bisa jadi:

  • negara tidak sedang mengalihkan apa-apa
  • media hanya mengejar klik
  • netizen hanya butuh pelampiasan
  • dan algoritma memang menyukai keributan

Semua mungkin benar, bersamaan.

Yang saya tahu, setelah berbulan-bulan digempur order fiktif di marketplace, saya berhenti bertanya: siapa dalangnya?
Saya lebih tertarik bertanya: kenapa sistem ini memungkinkan?

Karena marah tidak menyelesaikan retur.
Curiga tidak membatalkan akun bodong.
Teriak tidak membuat hidup lebih tenang.

Yang bisa saya lakukan hanya satu:
rapikan wilayah kecil yang bisa saya kendalikan.

Blokir akun.
Ikuti SOP.
Lanjut dagang.
Lanjut hidup.

Mungkin sama seperti urusan negara.
Kita boleh heran, boleh curiga, boleh jengah.
Tapi kalau setiap keributan langsung kita telan bulat-bulat, yang habis duluan bukan kebenaran—melainkan tenaga batin.

Saya memilih sikap yang membosankan:
tidak ikut ribut,
tidak sok paling sadar,
dan tidak merasa harus selalu bereaksi.

Karena hidup saya tidak ditentukan oleh headline hari ini.
Ia ditentukan oleh apakah besok saya masih bisa bangun, menyapa anak, dan membuka live daster tanpa rasa pahit di dada.

Kalau pun dunia memang penuh pengalihan,
barangkali bentuk perlawanan paling masuk akal bukan berteriak paling keras,
melainkan tetap waras di tengah kebisingan.

Dan mungkin—ini hanya dugaan pribadi—
kadang yang terlihat seperti konspirasi besar
hanyalah kumpulan manusia kecil
yang sama-sama bingung, lelah, dan memilih membuat gaduh
karena tidak tahu harus berpikir ke mana lagi.

Kalau begitu, saya tidak ingin ikut menambah keributan.

Saya cukup jadi pedagang daster
yang tahu kapan harus bicara,
dan kapan lebih sehat diam sambil lanjut hidup.



You May Also Like

0 komentar