Saya Pernah Percaya Suara Hati Berasal dari Organ Hati (Dan Otak Saya Tersinggung)

by - 6:00 AM

Saya tumbuh dengan satu keyakinan sederhana:

kalau dada hangat, itu tanda benar.
kalau ulu hati sakit, itu tanda salah.

Orang menyebutnya suara hati.
Dan saya percaya betul, suara itu diproses oleh… ya jelas… hati.

Masuk akal waktu itu.
Namanya juga suara hati, masa diproses di dengkul?

Kalau kecewa, dada terasa sesak.
Kalau bersalah, perut mual.
Kalau rindu, dada hangat kaya diseduh teh manis.

Berarti kan ada sesuatu yang kerja di situ.
Saya bahkan membayangkan hati saya seperti operator radio:

“Halo, ini hati. Ada sinyal kecewa masuk. Kirim rasa nyeri ke ulu hati. Over.”

Lalu saya sekolah.
Belajar biologi.
Belajar sains.

Dan… plot twist.

Hati ternyata cuma organ metabolisme.
Kerjanya nyaring racun, ngatur gula darah, bantu pencernaan.
Tidak ada satu slide pun yang bilang:

fungsi hati: memproses galau.

Otaklah dalangnya.
Emosi, intuisi, keputusan, rasa takut, cinta, semua lewat otak.
Tubuh cuma nerima sinyal.

Saat itu saya sempat sinis.
“Ih… kok orang tua dulu bilang perasaan dari hati sih?”
“Ini kan jelas-jelas kerjaan otak.”

Saya merasa lebih pintar.
Lebih modern.
Lebih… sok ilmiah.

Sampai satu titik saya sadar:
yang keliru bukan orang tua saya —
yang keliru itu ekspektasi saya.

Mereka hidup di zaman dengan kosa kata terbatas, alat ukur terbatas, akses ilmu terbatas.
Mereka tidak punya MRI, tidak punya istilah “sistem saraf otonom”, tidak kenal “gut-brain axis”.

Yang mereka punya cuma pengalaman tubuh.

Dan pengalaman tubuh memang terasa di dada, di perut, di ulu hati.
Jadi mereka menamai pusat rasa itu: hati.

Bukan karena bodoh.
Tapi karena itu yang paling jujur terasa.

Lucunya, walau saya sudah tahu semua teori,
kalau kecewa berat…
yang sakit tetap ulu hati, bukan lobus frontal.

Kalau harus memilih antara dua keputusan sulit,
yang saya dengar tetap bukan suara otak berbunyi:

“Berdasarkan analisis rasional…”

Yang muncul justru sensasi aneh:
dada hangat atau mengkerut.

Dan di situlah saya akhirnya berdamai:
suara hati itu bukan suara dari organ hati,
tapi suara otak yang diterjemahkan tubuh dengan bahasa paling primitif dan jujur.

Tubuh kita ini kaya subtitle otomatis.
Otak ngomong pakai listrik,
tubuh nerjemahin pakai rasa.

Orang tua saya tidak salah.
Ilmu pengetahuan juga tidak salah.
Mereka cuma berdiri di zaman yang berbeda.

Saya pun berhenti menghina proses itu.
Berhenti sinis pada istilah “kata hati”.
Karena di balik istilah yang kelihatannya tidak ilmiah itu,
ada upaya manusia memahami dirinya sendiri dengan alat seadanya.

Sekarang kalau ada yang bilang:
“Dengerin kata hati kamu,”
saya tidak lagi nyengir.

Saya hanya menerjemahkan dalam kepala:
oh, ini maksudnya dengarkan sinyal tubuh yang dikirim otak.

Tapi tentu saja…
kalau saya ngomong begitu di warung kopi,
pasti dibales:
“Bang, ribet amat. Pokoknya nurutin hati aja.”

Dan saya mengangguk.
Karena kadang, istilah sederhana memang cukup.

Ilmu boleh berkembang.
Bahasa boleh berubah.
Tapi manusia tetap sama:
makhluk yang mencoba waras sambil meraba-raba perasaan.

Dan entah itu datang dari hati, otak, atau semesta,
kalau dada terasa hangat…
biasanya, saya lanjutkan.

You May Also Like

0 komentar