Anjingku Anakku, Anakku… Ya Anak Tetangga

by - 12:00 PM

Saya selalu kagum pada manusia pecinta hewan.

Kagum, sekaligus bingung—dalam porsi yang seimbang.

Mereka mencintai hewan dengan sepenuh hati.
Anjing dipeluk. Kucing diajak bicara.
Nada suaranya lembut, penuh empati, seolah hewan itu sedang menulis tesis dan butuh dukungan moral.

“Sayang, makan dulu yaaaa.”
“Jangan lompat-lompat, nanti capek.”
“Kasian banget mukanya, pasti lagi sedih.”

Lalu saya menoleh sedikit ke samping.
Anaknya sendiri—manusia, usia balita—belepotan lumpur, nangis, ingusnya nyambung ke bibir.

Responsnya singkat:
“Ah, lebay. Anak kecil mah gitu.”

Di titik itu saya mulai curiga.
Jangan-jangan bukan hewannya yang istimewa,
tapi manusianya yang kelelahan menghadapi manusia lain.

Pernah ada ibu-ibu yang kehilangan anjing kesayangannya.
Dibuatlah selebaran:
HADIAH SEKIAN JUTA BAGI YANG MENEMUKAN ANJING INI.

Saya membayangkan si anjing membaca selebaran itu dari kejauhan, sambil menghela napas:
“Bu… saya cuma pengen jadi anjing.
Bukan anak emas.
Bukan sandaran batin.
Bukan pengganti relasi yang gagal.”

Mungkin si anjing kabur bukan karena tersesat.
Mungkin dia protes:
“Bu, anak ibu nangis dibentak.
Saya pipis sedikit, dibelai.”

Lucu memang.
Tapi juga ganjil.

Ada sesuatu yang terbalik secara halus tapi konsisten.
Hewan dicintai karena ia:

  • tidak membantah

  • tidak menuntut dialog

  • tidak memunculkan konflik nilai

Ia diam. Ia patuh. Ia setia.
Ia tidak pernah berkata, “Ibu tidak adil.”

Manusia?
Ribet. Berisik. Menuntut. Bisa menyakiti balik.

Maka sebagian orang memilih mencurahkan kasih ke makhluk yang tidak bisa menggugat balik.

Bukan karena mereka jahat.
Sering kali justru karena mereka capek.

Saya tidak membenci pecinta hewan.
Saya juga suka hewan.
Hewan itu jujur. Tulus. Tidak manipulatif.

Yang membuat saya tertawa adalah ketika:
anjing diperlakukan seperti anak,
sementara anak diperlakukan seperti gangguan.

Seolah-olah kasih sayang itu kuota terbatas,
dan sudah habis duluan untuk yang berbulu.

Kadang saya ingin bilang ke si anjing:
“Tenang, kamu bukan saingan.
Kamu cuma korban dari manusia yang bingung menaruh empati.”

Dan ke manusia itu saya ingin berbisik pelan:
“Mungkin bukan anjingmu yang terlalu kamu cintai.
Mungkin manusianya yang terlalu sulit untuk kamu hadapi.”

Tapi ya sudahlah.
Saya cuma tertawa kecil.

Karena di dunia yang absurd ini,
kadang yang paling dimengerti justru makhluk
yang tidak pernah minta dimengerti.

You May Also Like

0 komentar