Kalau Diejek Berarti Benar, Maka Setan Pun Bisa Salah Paham

by - 6:00 AM

Hari ini saya buang limbah lagi. Limbah pikiran, tepatnya. Topiknya klasik dan selalu segar seperti bau selokan habis hujan: hal bodoh apa yang dikerjakan pemerintah hari ini?

Ada gelombang protes soal deforestasi. Orang-orang ribut. Wajar. Hutan hilang bukan isu kecil. Yang ditunggu publik sederhana saja: konteks.
Siapa yang menebang?
Atas izin siapa?
Apakah korporasi, kroni, atau sekadar rakyat kecil yang disalahkan rame-rame?

Tapi yang keluar justru klarifikasi absurd, kalimat yang bikin saya berhenti mengunyah pikiran dan melongo:
“Kalau orang jahat mengejek kita, berarti kita benar.”

Saya membaca itu pelan-pelan, berharap mata saya yang salah fokus. Tidak. Itu betul-betul jawaban resmi. Bukan dari warung kopi, bukan dari kolom komentar Facebook, tapi dari orang di dalam institusi.

Di titik itu, saya refleks menembak: ini nalar orang sakit jiwa.

Dan saya tahu, kalimat itu kasar. Tapi jujur. Karena ini bukan lagi soal beda pendapat, ini soal loncat logika berjamaah.

Kalau logikanya begitu, dunia jadi sangat sederhana. Terlalu sederhana sampai berbahaya.
Semua kritik tinggal dicap “orang jahat”.
Semua ejekan jadi bukti kebenaran.
Tidak perlu data, tidak perlu audit, tidak perlu tanggung jawab.

Saya jadi ingat guyonan lama yang sering dipakai buat menenangkan diri:
“Kalau setan tidak senang, berarti kamu sedang melakukan perbuatan baik.”

Lucu. Tapi hanya kalau dipakai sebagai lelucon, bukan dasar kebijakan publik.

Karena faktanya, ada juga perbuatan buruk yang setan pun tidak senang.
Misalnya, menurut keyakinan saya pribadi yang ngawur tapi jujur: memperkosa istri setan.
Itu jelas salah, tapi setan juga marah.

Artinya apa?
Ketidaksenangan pihak tertentu bukan parameter moral.

Kalau begitu logika pemerintah dipakai konsisten, semua orang bisa membenarkan apa pun.
Penjahat bilang: “yang marah sama saya kan orang baik-baik, berarti saya benar dong.”
Koruptor bilang: “yang ribut cuma pembenci, berarti saya lurus.”

Di sini saya sadar, kemarahan saya bukan cuma ke kebijakan, tapi ke kemalasan berpikir. Karena kalimat itu bukan salah ucap. Itu refleksi cara bertahan: defensif, menutup telinga, dan menyederhanakan dunia supaya tidak perlu bercermin.

Padahal publik tidak minta banyak. Tidak minta pemerintah jadi malaikat.
Cuma minta satu hal yang sangat manusiawi: jawaban yang nyambung.

Di ujung hari, setelah limbah ini keluar, saya menurunkan nada. Saya tahu, kemarahan juga perlu rem. Karena kalau saya terus-menerus hidup di mode marah, saya tidak sedang kritis, saya cuma ikut bocor.

Maka saya simpulkan pelan-pelan:
Bukan semua ejekan tanda kebenaran.
Bukan semua kritik tanda kebencian.
Dan bukan semua pembelaan tanda kewarasan.

Kadang, orang mengejek karena memang ada yang salah.
Dan tugas orang berkuasa bukan membuktikan diri paling benar, tapi cukup berani memeriksa diri sendiri.

Limbah saya buang.
Besok mungkin ada lagi.
Pemerintah kita rajin memberi bahan.

You May Also Like

0 komentar