Ular, Kucing, dan Keluarga yang Lebih Takut Doa Daripada Gigitan

by - 9:00 PM

Maghrib-maghrib, rumah saya kedatangan tamu tak diundang.

Seekor ular. Ukurannya sopan, sebesar telunjuk. Tidak raksasa, tidak legendaris, tidak bercahaya. Hanya ular biasa, dengan pilihan hidup yang buruk.

Dulu, kejadian seperti ini langsung naik level.
Ular + maghrib = kiriman.
Kiriman + rumah = niat jahat seseorang.
Niat jahat + keluarga = drama berbulan-bulan.

Sekarang?
Saya ambil gagang sapu.
Saya gebuk kepalanya.
Ular wafat dengan terhormat.
Selesai.

Tidak ada mantra.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada makna tersembunyi.

Yang ada hanya satu kepanikan singkat:
“Jangan sampai nyerang anak saya.”

Itu saja.
Sangat tidak mistis. Sangat membosankan bagi versi lama diri saya.

Saat pintu dibuka, saya melihat penyebabnya.
Seekor kucing.
Duduk santai.
Menunggu hasil kerja kerasnya.

Ternyata si ular bukan kiriman siapa-siapa.
Ia hanya korban penggusuran habitat, dikejar kucing, lalu salah masuk alamat.
Dan bertemu saya—manusia dengan gagang sapu dan refleks protektif.

Saya sempat minta maaf ke ularnya.
Bukan karena saya dukun.
Tapi karena saya tahu: ini bukan personal, ini keamanan rumah tangga.

Saya foto bangkainya.
Bukan untuk ritual.
Bukan untuk konten.
Hanya bukti bahwa hari ini saya menang tipis melawan alam.

Setelah itu… sunyi.

Dan di situlah saya aneh sendiri.

“Kok datar ya?”
Dulu harusnya ribut. Harusnya ada makna. Harusnya ada bisikan gaib.
Sekarang… tidak ada suara apa-apa di batin saya.

Akhirnya saya sadar:
Saya butuh katup pelepas kaget, bukan tafsir.

Maka saya kirim ke grup WhatsApp komplek.
Hasilnya sesuai dugaan:
rasional, singkat, Alhamdulillah, aman, hati-hati.

Saya kesal.
Ayo dong, bikin saya ketawa kek.
Dulu mah rame.

Lalu saya kirim ke grup WhatsApp keluarga.

Narasinya saya potong pendek, biar mencekam:

“Astaghfirullah, maghrib-maghrib ada ular masuk rumah. Untung keburu digebuk.”

Titik.
Tanpa emoji.
Tanpa penjelasan.

Dan benar saja—ritual dimulai.

Doa mengalir.
Nada khawatir muncul.
Ada yang nyeletuk:
“Ular jangan dibunuh…”

Saya terbahak sendirian.

Dalam kepala saya muncul adegan absurd:
ular masuk rumah, lalu saya ajak ngobrol.
Atau saya giring keluar pelan-pelan sambil negosiasi.

Akhirnya saya jawab dramatis:

“Udah saya bunuh kak. Darahnya aja banyak di lantai.”

Dan itu benar.
Saya mukul tepat di kepala. Profesional. Efisien.

Semua mendoakan.
Semua… kecuali satu orang.

Abang kedua saya.
Pelanggan setia koran absurd.

Komentarnya pendek:

“Suruh kerja aja ularnya. Dia banyak bisanya.”

Saya setuju penuh.
Ular itu memang multi-talenta, hanya salah rekrutmen.

Sebagai penutup, saya luruskan suasana:
Rumah saya di samping kebun.
Habitat mereka kami rampas pelan-pelan.
Jadi wajar kalau ular, kalajengking, dan makhluk lain salah alamat.

Kemarin kalajengking masuk.
Sudah di-shutdown juga.

Lalu pikiran saya hampir bocor:
Bagaimana kalau suatu hari anak saya mengira serangga berbisa itu mainan?

Saya cepat-cepat tutup pikiran itu.
Bukan dengan doa panjang.
Tapi dengan tindakan kecil:
menambah pengaman di bawah ventilasi pintu.

Selesai.

Tidak heroik.
Tidak spiritual.
Tidak dramatis.

Dan mungkin, justru di situlah lucunya.

Dulu, saya ribut karena percaya terlalu banyak.
Sekarang, saya tenang karena memilih secukupnya.

Ular mati.
Kucing puas.
Keluarga panik sebentar.
Saya tertawa.

Dan hidup…
berjalan lagi seperti biasa

You May Also Like

0 komentar