Saya, Lini Masa, dan Negara yang Terlalu Pandai Melucu

by - 12:00 PM

Saya masuk ke lini masa dengan satu kesiapan batin:

hal bodoh apa lagi yang akan dilakukan pemerintah hari ini?

Dan seperti algoritma yang paham trauma kolektif,
jawabannya selalu tersedia.

Berita demi berita, hari demi hari, tahun demi tahun,
isinya satu pola yang itu-itu juga:
kinerja aparat busuk, kebijakan absurd, klarifikasi yang lebih membingungkan daripada masalah awalnya.

Awalnya saya masih bisa membaca sambil geleng-geleng kepala.
Lama-lama lelah.
Bukan marah meledak-ledak, tapi lelah yang lengket.
Lelah yang bikin orang pengin nyeletuk sembarangan.

Dan saya nyeletuk.

Saya menulis komentar yang niatnya bercanda tapi lahir dari capek:
“Syarat jadi pemangku kebijakan: harus lucu. Grup lawak yang sudah berusaha melucu saja kalah lucu dengan pemerintah yang tidak niat melucu. Lebih lucu lagi, kita bayar kelucuan mereka tanpa bisa apa-apa.”

Responsnya cepat.
Mayoritas mengamini.
Ketawa pahit.
Ada yang bilang, “Nah ini.”

Yang menyerang?
Langsung dicap buzzer.

Saya baca ulang komentar saya.
Ketawa sedikit.
Lalu menyesal.

Bukan karena saya salah total,
tapi karena saya tahu:
itu bukan analisis, itu katup emosi.

Saya tidak sedang ingin menggulingkan negara.
Saya tidak sedang menyusun makalah kebijakan publik.
Saya cuma capek hidup di negara yang setiap hari terasa seperti sketsa komedi—
tapi penontonnya dipaksa bayar tiket.

Dan di titik itu saya sadar,
lini masa sudah berubah fungsi.

Bukan lagi ruang diskusi,
tapi tempat pembuangan emosi nasional.

Orang datang membawa lelahnya masing-masing:
lelah kerja,
lelah macet,
lelah harga naik,
lelah disuruh sabar terus.

Lalu bertemu berita pemerintah,
dan… plak.
Katup dibuka.

Masalahnya, begitu katup dibuka di ruang publik,
emosi kita langsung diklasifikasi.

Kalau setuju, kamu waras.
Kalau beda dikit, kamu buzzer.
Kalau netral, kamu dicurigai.

Saya sendiri akhirnya bertanya:
apa saya sedang kritis, atau cuma sedang lelah?

Karena jujur saja,
tertawa sinis itu bukan solusi,
tapi kadang itu satu-satunya cara agar tidak meledak.

Saya menyesal menulisnya,
tapi tidak sepenuhnya menarik kata-kata saya.

Anggap saja itu batuk.
Bukan pidato.

Besoknya, saya memilih diam.
Bukan karena negara mendadak beres.
Tapi karena saya sadar:
kalau semua lelah saya tumpahkan ke lini masa,
saya cuma menambah satu sampah lagi di tempat sampah yang sudah penuh.

Saya tetap kritis.
Tetap tahu ada yang salah.
Tapi tidak semua capek harus dijadikan status.

Kadang cukup diakui dalam hati:
oh, saya lelah hidup di sistem yang absurd.

Lalu tutup aplikasi.
Minum air.
Tidur.

Karena kalau tidak,
saya bukan lagi warga negara yang sadar,
tapi penonton tetap komedi panjang
yang tidak pernah meminta kita tertawa—
tapi tetap menagih bayaran.

You May Also Like

0 komentar