Saya Ini Bukan Kurang Iman, Cuma Kebanyakan Alumni Ramalan Kiamat

by - 6:00 PM

Usil saya sepertinya sudah kronis.

Bukan yang teriak-teriak cari ribut, tapi jenis penyakit batin yang muncul tiba-tiba: senyum miring, logika kepikiran, lalu tawa kecil yang harus ditahan supaya tidak dianggap kerasukan.

Kadang saya menahannya di kepala.
Kadang saya menanggapinya dengan bahasa rasional—kalem, tertib, seperti orang dewasa bertanggung jawab.
Tapi di fase tertentu, agresinya naik: saya tertawa sendiri.

Biasanya ini kambuh di grup WhatsApp keluarga.

Abang saya rajin berbagi materi hikmah. Ayat, renungan, potongan ceramah. Saya aman. Saya manut. Saya react 👍 atau 🙏.
Buat saya, itu sudah cukup sebagai tanda: saya membaca, saya menghargai, selesai.

Sampai suatu pagi, ia mengirim video.

Isinya seorang wanita, selepas subuh, dengan wajah penuh pencerahan.
Katanya ia mendapatkan pemahaman dan pandangan masa depan:
enam pulau besar dalam pandangannya, Indonesia akan dilanda bencana.

Saya nonton sampai habis.
Netral, sebenarnya. Persepsi. Tafsir personal. Hak siapa pun untuk merasa “mendapat pesan”.

Yang bikin otak saya gatal bukan videonya.
Tapi respons abang saya.

Ia menanggapi dengan serius.
Kita harus hati-hati, katanya. Ini pengingat.

Di titik itu, saya sadar:
abang saya tidak belajar dari sejarah.

Sejarah panjang ramalan kiamat.
Dari sebelum kemerdekaan, setelah kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, sampai zaman bayi dalam rahim sudah punya akun TikTok.

Saya ini alumni.

Saya sudah lulus dari banyak tanggal kiamat.
Sudah wisuda dari banyak nubuat.

Niat awal saya sebenarnya baik: meluruskan pelan-pelan.
Tapi seperti biasa… yang keluar malah usil.

Saya mengetik:

“Aamiin, semoga selalu dalam lindungan Allah.
Kalaupun beneran terjadi, itu sudah takdir kita.
Walaupun kenyataannya kita ini alumni ramalan kiamat yang datang berkali-kali, belakangan malah jadi lucu.”

Saya kirim.
Dan… hening.

Sunyi yang tebal.
Sunyi yang isinya bukan tidak setuju, tapi tidak tahu harus menanggapi bagaimana.

Di kepala saya, saya yakin:
saudara-saudara yang lain mengamini. Diam-diam. Dalam hati. Sambil senyum.

Tapi abang saya tersinggung.

Katanya ini pengingat.
Katanya saya jangan meremehkan.

Saya membaca ulang pesan saya.
Saya tidak menghina Tuhan.
Saya tidak menertawakan iman.
Saya bahkan masih menutup dengan takdir.

Tapi ya begitulah.
Usil sering terdengar seperti kurang ajar, padahal cuma kebanyakan pengalaman.

Saya tertawa renyah seperti biasa.
Bukan tertawa mengejek, tapi tertawa orang yang sadar:
saya ini tidak sedang melawan iman, saya cuma alergi pada ketakutan yang dijual ulang.

Mungkin benar, ini penyakit akut.
Usil yang lahir dari terlalu sering melihat dunia menakut-nakuti dirinya sendiri.

Dan saya sudah berdamai dengan satu kesimpulan kecil:

Tidak semua pengingat perlu ditanggapi serius.
Dan tidak semua tawa berarti tidak beriman.

Kadang, tertawa itu cuma tanda bahwa
kita pernah terlalu sering ditakut-takuti…
dan akhirnya kebal.

Saya tetap berdoa.
Tetap mengamini.
Tapi sesekali, saya butuh menertawakan kiamat yang tak kunjung datang—
supaya hidup hari ini tidak habis oleh ketakutan esok hari.

You May Also Like

0 komentar