Tenang, Tanpa Manis-Manisan: Catatan Rekonsiliasi dengan Tuhan

by - 12:00 PM

Saya tidak sedang mencari Tuhan yang baru.

Saya hanya sedang berdamai dengan cara lama saya mengenal-Nya.

Sejak kecil, Tuhan hadir dalam bentuk suara keras.
Wudhu yang kurang sempurna, neraka.
Salat bolong, azab.
Pertanyaan terlalu jauh, rotan.

Tuhan tidak datang sebagai tempat pulang,
tapi sebagai algojo yang siap mencatat kesalahan teknis.

Saya tumbuh dengan kepala penuh makna dan tubuh penuh hukuman.
Setiap hal harus masuk akal.
Setiap aturan harus bisa dijelaskan.
Dan Tuhan—dalam versi pendidikan saya waktu itu—tidak ramah pada pertanyaan.

Saya pernah sampai di titik paling jujur dan paling ekstrem:
saya benci Tuhan.

Bukan karena saya ingin durhaka,
tapi karena Tuhan dijadikan alat teror.
Saya beribadah bukan karena rindu,
melainkan karena takut.

Dan saat ketakutan itu lelah,
yang tersisa hanya kehampaan.

Saya pernah menguji batas itu dengan cara yang bahkan bagi saya sendiri terdengar lancang.
Saya menantang.
Saya bercanda keras.
Saya ingin melihat, apakah Tuhan benar-benar tersinggung oleh kejujuran.

Tidak ada apa-apa yang terjadi.
Tidak ada petir.
Tidak ada kutukan.
Yang ada hanya batin yang kering dan sunyi.

Di titik itu saya menyimpulkan satu hal sederhana:
kalau Tuhan hanya hadir sebagai ancaman,
maka yang hidup bukan iman—tapi kecemasan.

Waktu berjalan.
Saya tidak menjadi lebih saleh.
Tidak juga menjadi ateis.
Saya hanya duduk.

Dan dari duduk itulah pelan-pelan saya paham:
Tuhan bukan tempat saya lari dari takut,
tapi tempat saya kembali saat ingin rapi.

Saya mulai salat lagi.
Tanpa rasa manis.
Tanpa lezat.
Tanpa getar spiritual.

Hanya tenang.

Bagi sebagian orang, mungkin ini terdengar datar.
Bagi kaum sufi, barangkali terasa kurang puitis.
Tapi saya tidak iri pada “lezatnya ibadah”,
karena jalan kami berbeda.

Saya tidak datang lewat rindu,
saya datang lewat rekonsiliasi.

Dan saya tidak merasa lebih tinggi atau lebih benar.
Saya hanya akhirnya berhenti berisik di dalam.

Sekarang saya paham:
ibadah tidak selalu harus terasa nikmat.
Cukup tidak membuat batin tercekik.

Saya tidak lagi salat karena takut neraka,
tidak juga karena mengejar surga.
Saya melakukannya karena saya ingin batin saya tenang.

Selesai.

Saya tidak perlu menjelaskan ini ke siapa pun.
Tidak perlu membela Tuhan.
Tidak perlu membela diri saya.

Kalau ada orang yang menemukan Tuhan lewat manisnya ibadah,
saya menghormatinya.
Kalau ada yang datang lewat takut,
saya mengerti.

Saya sendiri sampai di sini
lewat kejujuran yang lama ditekan.

Dan mungkin,
Tuhan yang Maha
tidak pernah tersinggung oleh kejujuran seperti itu.

Ia hanya menunggu
sampai saya siap duduk
tanpa teriak,
tanpa menantang,
tanpa bersembunyi.

Tenang.

You May Also Like

0 komentar