Ubin Retak, Akal Sehat Ikut Dikubur
Bayangkan ini adegan film.
Bukan horor. Lebih ke komedi hitam kelas tanggung.
Ayah saya sakit. Saya tahu ini stroke.
Tubuh capek, kerja diporsir, rokok, kopi, nutrisi seadanya. Biologi bekerja sesuai SOP.
Masuklah Pak Ustadz.
Wajah tenang. Suara yakin. Aura saya sudah sering begini.
Beliau bilang,
“Ini kena guna-guna.”
Saya diam.
Karena kalau saya bicara, genre filmnya langsung berubah jadi thriller.
Lalu beliau menyuruh saya menggali tanah di tengah rumah,
untuk menanam penangkal.
Saya ingin bertanya pelan-pelan:
“Tadz… kalau ini berhasil, apakah ubin rumah saya akan pulih sendiri?”
Karena sejauh pengetahuan saya,
guna-guna mungkin metafisik,
tapi ubin pecah itu sangat fisik.
Plot twist pertama:
penangkal tidak menyembuhkan ayah saya,
tapi berhasil merusak lantai rumah.
Setelah itu beliau berkata dengan wajah tetap tenang—tenang yang mengalahkan kipas angin:
“Ini dukunnya kuat. Santetnya hebat.”
Saya refleks bertanya,
“Siapa yang nyantet, Tadz?”
Beliau memberi ciri-ciri.
Saya dengarkan.
Saya cocokkan.
Plot twist kedua:
ciri itu mengarah ke seseorang yang secara relasi baik-baik saja,
tidak pernah ribut, tidak pernah konflik, bahkan saling sapa di warung.
Saya bilang,
“Lho… mereka akur.”
Beliau menjawab:
“Ya kita sebagai manusia tidak boleh menuduh.”
Di titik ini, logika saya keluar ruangan untuk merokok.
Karena:
beliau memberi saya teka-teki,
saya menjawab sesuai petunjuk,
lalu saya dimarahi karena menjawab.
Ini bukan spiritualitas.
Ini escape room batin tanpa pintu keluar.
Ayah saya kemudian meninggal.
Dan kalimat penutup pun turun, anggun, tanpa rasa bersalah:
“Ini takdir. Ikhlaskan.”
Saya baru sadar sesuatu yang mengerikan sekaligus lucu:
dalam realitas ini, apa pun bisa berdiri kokoh di atas pondasi ketololan, asal diucapkan dengan tenang.
Saya tidak marah lagi.
Saya malah heran.
Ternyata luka bisa ditertawakan,
bukan karena ia kecil,
tapi karena alur ceritanya terlalu bodoh untuk dipercaya.
Sekarang kalau mengingat itu, saya bisa senyum.
Senyum tipis.
Senyum orang yang tahu:
“Oh… ternyata bukan saya yang gila.
Dunia ini saja kadang terlalu kreatif menolak logika.”
Dan anehnya, setelah tertawa,
batin jadi adem lagi.
0 komentar