Tahlil, Khitan, dan Ice Cream: Antropologi Receh Orang Sibuk
Saya menulis ini sambil duduk, laptop di pangkuan, anak main di samping, dan sesekali terdistraksi oleh permintaan kecil dari rumah: “Ayah, tolong ambilin ini.” Kadang bahan loncat, typo, seadanya—tapi itulah hidup sebagai orang tua yang mencoba mengamati manusia sambil tetap menavigasi realitas sehari-hari.
Di desa saya dulu, khitan anak dilakukan saat mereka masih balita. Anak bahkan tidak ingat prosesnya. Di kota, orang tua lebih sering menunggu anak remaja—alasan mereka: agar anak siap mental, memahami ritual, dan bisa berdialog soal maknanya. Dua pola yang kontras ini, bagi saya, menjadi studi lapangan pertama: benturan kultur dalam lingkup keluarga. Menariknya, keduanya punya logika simbolik. Di desa, khitan bukan sekadar fisik, tapi tiket “anak sah masuk masjid”—sebuah bentuk pendidikan agama sejak dini. Di kota, khitan menjadi dialog dan kesadaran diri, seakan anak diberi pilihan untuk memahami tradisi, bukan sekadar menuruti.
Lalu ada tahlil. Saya perhatikan orang dewasa sering ribet: “Ini bid’ah! Itu tidak bersanad!” Sementara anak-anak, tetap waras, menanggapi suara tahlil seperti latar musik. Mereka belum dibebani tafsir, belum dipusingkan siapa salah siapa benar. Anak-anak ini, menurut sosiolog Goffman (1959), secara alami menjadi aktor sosial paling fleksibel: mereka menyesuaikan diri dengan simbol tanpa tergelincir pada konflik ego. Sedangkan orang dewasa, ironisnya, menjadi makhluk simbolik yang ribet, menegakkan aturan bahkan di hal-hal yang sepele.
Yang membuat hari ini lebih seru? Ice cream. Anak saya membeli sendiri di warung kecil dekat rumah. Ia membayar sambil gugup: “Tante, aku sudah selesai jajan, berapa?” Para karyawan menahan tawa, profesional sekaligus terhibur. Setelah saya dan anak meninggalkan warung, tawa mereka pecah: “Hahaha, si anak ini cocoknya dipanggil eyang, bukan tante!” Di sini saya tercenung. Anak, makhluk sosial paling waras, mengikuti norma sederhana: membayar, bersikap sopan, menyesuaikan diri. Orang dewasa? Mereka ribet menilai panggilan, usia, simbol, dan identitas—selalu ada aturan tak tertulis yang harus ditegakkan.
Seorang coach e-sport pernah berkata kepada saya: “Saya bisa memahami cara menang dalam game walaupun belum pernah main gamenya, karena saya amati pola dan strategi.” Sama halnya dengan saya mengamati manusia, tahlil, khitan, dan ice cream: saya duduk, menonton, merekam pola, dan sesekali tersenyum. Hidup tidak harus heroik, anak bisa tumbuh fleksibel, dan orang dewasa bisa belajar dari pola sederhana ini. Turner (1969) dalam kajiannya soal ritual menekankan, ritual itu memberi makna sosial—namun makna itu akan menyesuaikan diri dengan interpretasi pelaku. Anak-anak adalah interpretator alami, sementara orang dewasa kadang lupa menikmati fleksibilitas simbolik itu.
Epilognya? Anak saya belajar tanggung jawab sederhana: bayar sendiri, bersikap sopan, memilih es krim tanpa drama. Saya belajar: orang dewasa sering ribet karena ingin menegakkan simbol, anak-anak tetap waras karena mereka menjalani interaksi sosial tanpa perlu memaksa makna. Dari khitan hingga tahlil, dari warung hingga kelas e-sport, hidup adalah serangkaian ritual, simbol, dan ice cream—dan kalau kita cukup jeli, recehnya bisa menjadi antropologi.
0 komentar