Nama-Nama untuk Rasa Takut, dan Upaya Manusia Menyelamatkan Diri dari Sunyi
Saya pernah mengira saya takut hantu.
Belakangan saya sadar, itu terlalu dramatis untuk ukuran saya.
Yang saya takuti bukan sosok putih melayang, bukan suara langkah misterius, apalagi penampakan berambut panjang yang terlalu rajin muncul di sinetron. Yang saya takuti ternyata jauh lebih membumi dan tidak mistis sama sekali: gelap dan sepi.
Gelap membuat imajinasi bekerja lembur. Sepi membuat batin berisik.
Dan otak manusia—termasuk otak saya—tidak suka kondisi tanpa penjelasan. Maka ia melakukan satu hal yang sangat manusiawi: memberi nama.
Gelap yang tak terjelaskan diberi nama hantu.
Sepi yang menekan diberi cerita.
Takut yang tak sempat dianalisis diberi simbol.
Selesai. Sementara.
Saya tumbuh di lingkungan yang cukup kreatif dalam menamai ketakutan. Tidur malam? “Jangan, nanti ada hantu.”
Ajaibnya, kalimat itu tidak pernah membuat orang dewasa menemani dengan lampu, hanya meninggalkan sugesti lalu pergi. Sejak itu saya belajar satu hal: ketakutan bisa diwariskan tanpa penjelasan.
Bertahun-tahun kemudian, saya mendapati diri saya tidak tahan ruangan sunyi. Ruang kedap suara membuat telinga seperti ditekan dari dalam. Harus ada suara: hujan, kipas, musik, atau apa pun—bahkan tabuhan panci asal disepakati sebagai musik. Yang penting, ada yang hidup.
Saya sempat menyalakan murotal. Awalnya sederhana: supaya tidak ada hantu, jin, atau makhluk metafisik yang entah mengapa selalu diasosiasikan dengan malam.
Tapi jujur saja, belakangan saya sadar: saya menyalakannya bukan untuk mengusir apa pun, tapi untuk ditemani.
Dan ketika saya paham itu, sesuatu bergeser. Musik yang dulu jadi sahabat kerja malah berubah menjadi gangguan. Terlalu ramai. Terlalu penuh emosi. Sekarang bunyi kipas saja sudah cukup. Tenang. Tidak mengganggu fokus.
Seperti ada rak batin yang akhirnya dirapikan.
Dari situ saya mulai memperhatikan pola yang sama di tempat lain.
Otak manusia, termasuk saya, sangat rajin memberi label. Saat AI muncul, reaksi pertama saya refleks: ini Skynet. Terminator. Kiamat versi silikon. Padahal setelah dipakai, AI ini lebih mirip cermin netral yang memantulkan apa yang kita lemparkan—tanpa kesadaran, tanpa niat, tanpa ambisi menggantikan manusia. Tidak seram, hanya responsif.
Lucunya, saya sudah membenci AI sejak era Simsimi. Bukan karena kecerdasannya, tapi karena ia menjadi tempat pembuangan limbah batin manusia tanpa empati dan tanpa rem. Simsimi bukan jahat. Ia hanya hasil didikan manusia yang malas bertanggung jawab atas kata-katanya sendiri.
Dari hantu, AI, sampai Tuhan, polanya terasa mirip:
saat manusia belum bisa menjelaskan, ia menamai.
Saat belum paham, ia membangun narasi.
Dan saat narasi itu mulai bocor, ia dipertahankan mati-matian.
Di titik paling rapuh hidup saya, ketika ayah biologis saya sakit, saya melihat pola ini bekerja dengan cara yang menyakitkan. Stroke yang jelas sebabnya—pola hidup, kelelahan, nutrisi, rokok, kopi—perlahan digeser menjadi cerita kiriman, jin, dan penyakit metafisik.
Yang datang bukan dokter, tapi dukun.
Yang menguatkan bukan istirahat, tapi sugesti.
Dan saat semuanya gagal, kalimat pamungkas pun turun: ini takdir.
Di sana saya belajar, tidak semua yang disebut iman itu menenangkan. Kadang ia justru mematikan logika, tanggung jawab, dan ikhtiar. Dan kemarahan saya saat itu bukan kepada Tuhan, melainkan kepada cara manusia berlindung di balik nama Tuhan untuk berhenti berpikir.
Sekarang, ketika saya berkata “batin saya relatif rapi dan tenang”, saya tahu maksudnya.
Bukan berarti hidup selalu logis.
Tapi saya butuh kerangka yang masuk akal agar batin tidak panik menciptakan hantu baru.
Dan ya, ada orang yang bisa tenang dalam ketidaklogisan. Ada yang membangun realitas di atas sugesti. Air doa bisa terasa menyembuhkan karena placebo bekerja. Masalahnya bukan di sugestinya—tapi ketika sugesti gagal lalu kesalahan dialihkan ke jin yang lebih kuat.
Di titik itu, saya hanya bisa tersenyum pahit dan berpikir:
Plis… mungkin bukan jin yang kuat. Mungkin logikanya yang rapuh.
Tulisan ini bukan penolakan iman, bukan glorifikasi sains, dan bukan manifesto apa pun. Ini hanya catatan seseorang yang lelah, yang sedang belajar bahwa memberi nama bisa menenangkan, tapi memahami jauh lebih menyembuhkan.
Dan kalau hari ini batin saya terasa bocor, saya tahu alasannya sederhana:
saya capek.
Dan manusia yang capek biasanya butuh istirahat—bukan mitologi tambahan.
0 komentar