Tuhan Tidak Tersinggung, Saya yang Pernah Kebingungan

by - 6:00 AM

Saya pernah bercanda ingin menjadi Tuhan.

Bukan karena merasa hebat, apalagi ingin berkuasa.
Lebih tepatnya: saya ingin berhadapan langsung.

Waktu itu saya alim—tapi alim karena takut.
Takut salah wudhu. Takut salah bacaan. Takut ibadah saya cacat lalu berbuah hukuman yang tidak masuk akal. Narasi yang saya terima sederhana dan keras: kesalahan kecil, konsekuensi ekstrem.

Di titik itu, batin saya lelah.
Lalu keluarlah humor yang belakangan saya pahami sebagai humor berbahaya—bukan untuk orang lain, tapi untuk batin sendiri.

Saya pernah berkata, sambil tertawa:

“Saya sudah beribadah dengan baik, harusnya kalau saya jadi Tuhan, aman.”

Teman-teman tertawa.
Ada yang lanjut menggoda:

“Masih mau jadi Tuhan?”
“Atau turun jadi nabi?”
“Atau jadi tukang daster aja?”

Saya ikut tertawa. Ringan. Tanpa klimaks.
Bukan karena saya suci. Tapi karena saat itu saya bingung.

Kalau saya jujur, candaan itu bukan ingin menjadi Tuhan.
Itu tantangan batin terhadap gambaran Tuhan yang terasa pemarah, terlalu mudah murka, dan gemar menghukum. Tuhan versi cerita cepat, Tuhan versi pedagogi takut.

Saya membayangkan Tuhan seperti figur yang gampang tersinggung:

“Eh Tuhan, saya menantang Anda.
Seberapa marahnya Anda sekarang?”

Di kepala saya, Tuhan itu ribet.
Lebih ribet dari manusia PMS—dan itu saya ucapkan bukan untuk menghina Tuhan, tapi untuk menunjukkan betapa tidak proporsionalnya gambaran itu di batin saya.

Ada cerita-cerita yang dulu saya telan mentah-mentah:
tidak sholat Jumat jadi monyet.
Kejam, pikir saya.

Puluhan tahun berlalu.
Banyak orang—Muslim, non-Muslim—tidak sholat Jumat.
Tidak ada yang berubah jadi monyet.
Relasi sosial mereka baik-baik saja.

Di situ saya mulai paham:
yang bermasalah bukan Tuhan,
tapi cara manusia menceritakan Tuhan.

Mungkin para pengajar hanya ingin narasinya cepat bekerja.
Takut itu efektif.
Patuh instan.
Tapi mereka lupa satu hal:
tidak semua batin anak mampu memproses simbol sebagai simbol.

Bagi anak dengan batin kacau seperti saya,
cerita itu dibaca literal.

Dan ketika literalitas bertemu ancaman,
yang lahir bukan iman—tapi kecemasan.

Maka wajar kalau batin saya dulu ingin “berhadapan”.
Bukan untuk menang.
Tapi untuk mencari keadilan yang masuk akal.

Sekarang, arsip itu saya tertawakan.
Tanpa tendensi.
Tanpa rasa berdosa.
Bukan karena saya membenarkan semuanya, tapi karena konflik itu sudah selesai.

Saya tidak lagi perlu menantang Tuhan.
Saya tidak lagi sibuk membela atau menyerang-Nya.

Saya paham satu hal sederhana:
saya yang butuh Tuhan untuk ketenangan batin.
Bukan Tuhan yang butuh disembah agar ego-Nya aman.

Dan lucunya, justru di titik ini saya kembali beribadah.
Tanpa takut.
Tanpa ancaman.
Tanpa drama kosmik.

Tenang saja.
Tuhan tidak tersinggung.

Yang dulu kebingungan,
hanya saya.

You May Also Like

0 komentar