Antropologi Tawuran: Catatan Receh dari Orang yang Memilih Selamat
Dulu, saya punya satu tokoh antropologi hidup di rumah sendiri: abang saya.
Veteran tawuran fase remaja. Lengkap. Sajam, rokok, memukuli atau dipukuli, keluar-masuk penjara, lalu—ajaibnya—selamat.
Saya takjub bukan karena ia jago berantem.
Saya takjub karena ia hidup.
Banyak yang tidak.
Di masa itu, tawuran bukan anomali. Ia banal. Sehari-hari. Seperti hujan sore atau motor knalpot racing. Anak-anak turun ke jalan bukan untuk revolusi, tapi untuk membuktikan sesuatu yang bahkan mereka sendiri tidak bisa jelaskan. Dalam istilah Hannah Arendt, ini mirip banality of violence—kekerasan yang terjadi bukan karena ide besar, tapi karena semua orang melakukannya dan berhenti bertanya.
Abang saya naik level dengan cara keras.
Ia selamat setelah pendampingan, setelah sistem akhirnya turun tangan, setelah luka cukup banyak untuk membuat hidup terasa mahal. Saya melihat itu semua dari pinggir. Duduk sebagai penonton setia, mencatat tanpa sadar.
Dan dari situlah satu kesimpulan membeku pelan-pelan:
kalau saya memasukkan anak saya ke sekolah model abang saya dulu, probabilitasnya jelas. Entah anak saya ikut tawuran, atau jadi korban. Keduanya sama-sama menyisakan residu psikologis yang tidak romantis.
Tawuran bukan soal keberanian.
Ia soal ekologi sosial.
Dalam kacamata Pierre Bourdieu, lingkungan membentuk habitus—cara tubuh bereaksi sebelum pikiran sempat ikut rapat. Kalau kekerasan jadi bahasa sehari-hari, maka tubuh anak belajar menjawab konflik dengan tinju bahkan sebelum mulut sempat bicara.
Maka saya memilih sesuatu yang terdengar membosankan:
selamat.
Saya menyelamatkan psikologi saya sendiri, dan menyelamatkan anak saya dari drama “mencari jati diri” lewat jalan pintas yang mahal biayanya. Di sekolah anak saya sekarang, energi disalurkan ke tempat yang lebih jinak tapi tetap manusiawi. Yang senang bak-bik-buk ada taekwondo dan pencak silat. Yang senang ketenangan ada klub bahasa asing. Kekerasan tidak dieliminasi—ia disublimasikan.
Sigmund Freud pasti manggut-manggut dari alam sana.
Yang paling ironis justru datang dari abang saya sendiri. Setengah bercanda, setengah lelah, melihat tawuran masa kini, ia berkata,
“Saya sudah naik dari sawah, kamu baru turun. Dasar payah.”
Kalimat itu lucu sekaligus sedih.
Entah itu ejekan, entah itu penyesalan yang menyamar jadi humor. Mungkin juga harapan agar kekonyolan yang sama tidak diwariskan mentah-mentah ke generasi berikutnya. Semacam epifani yang datang setelah harga hidup dibayar lunas.
Dalam antropologi, ini biasa disebut post-factum wisdom—kebijaksanaan yang muncul setelah fakta memukul muka. Terlambat untuk diri sendiri, tapi masih berguna untuk orang lain.
Saya tidak sedang mengutuk masa lalu abang saya.
Justru sebaliknya. Saya berterima kasih. Ia menjadi arsip hidup, studi kasus berjalan, peringatan tanpa poster. Dari tubuhnya yang selamat, saya belajar satu hal penting: tidak semua pengalaman perlu diwariskan. Ada yang cukup dipelajari dari jauh.
Maka kalau hari ini saya memilih kompleks yang tenang, sekolah dengan eskul beragam, dan hidup yang terdengar “kurang seru” bagi sebagian orang—itu bukan kepengecutan. Itu strategi.
Antropologi receh versi saya sederhana:
kalau sejarahnya konyol dan mahal, tidak ada kewajiban moral untuk mengulanginya.
Cukup pahami polanya.
Lalu pilih selamat.
0 komentar