Minus Anggaran, Plus Amarah: Kenapa Kabar Buruk Selalu Lebih Laku

by - 12:00 PM

Saya mulai curiga, di Indonesia ada satu rumus tak tertulis dalam dunia pemberitaan:

kalau kabarnya buruk, berarti itu kabar baik.
Baik untuk siapa? Ya tentu saja, bukan untuk yang diberitakan.

Belakangan saya membaca berita tentang pemerintah daerah yang gagal bayar. Judulnya keras, nadanya muram, seakan dunia mau runtuh. Narasinya cepat sekali mengerucut: pemda tidak becus mengelola anggaran. Titik. Tidak pakai koma, apalagi titik dua.

Padahal, kalau dibaca pelan-pelan—ini yang jarang dilakukan—kas daerah itu terkuras karena pembangunan masif. Jalan diperbaiki, sekolah dibangun, fasilitas publik ditata. Bukan karena uangnya raib ke kantong gelap. Bukan karena pejabatnya kabur ke luar negeri sambil nyengir.

Tapi tentu saja, itu bukan cerita seksi.

Media lalu melakukan hal yang paling mereka kuasai: memanaskan wajan. Semua pihak yang kontra dengan pemda dimintai komentar. Yang kalah secara politik diberi mikrofon panjang. Kalimat-kalimat lama diangkat ulang. Gaya kepemimpinan diseret. Personal diserang. Minus anggaran jadi pintu masuk untuk menembak apa saja yang bergerak.

Hasilnya?
Masyarakat terbelah rapi menjadi tiga kubu, seperti biasa.

Kubu pertama: rakyat lapisan bawah pendukung pemda.
Mereka membela habis-habisan.
“APBD minus mah urusan belakangan, yang penting jalan jadi mulus.”
“Sekolah berdiri, rumah sakit ada, ini kan cuma uang.”

Kubu kedua: pihak kontra.
Semua kebijakan salah.
Semua keputusan keliru.
Minus kecil diperlakukan seolah lubang neraka.

Kubu ketiga: saya.
Bukan karena paling pintar, tapi karena sudah capek berisik.

Saya mencoba berdiri di tengah, meski posisi ini sering sepi dan tidak dianggap keren. Di mata saya, dua hal bisa benar bersamaan:
iya, ada kekeliruan administrasi yang harus dibereskan,
dan iya, penggunaan anggaran itu memang tepat sasaran, terbuka, dan bisa dipertanggungjawabkan.

Masalahnya bukan di sana.
Masalahnya ada di cara cerita ini dijual.

Media tidak tertarik pada keseimbangan. Media tertarik pada ledakan. Minus kecil yang masih bisa diperbaiki digoreng habis-habisan, sementara korupsi triliunan yang jelas-jelas merampok masa depan manusia sering lewat seperti angin sore. Sepi. Datar. Tidak cukup viral.

Yang satu meminuskan angka.
Yang satu meminuskan kemanusiaan.
Tebak mana yang lebih sering jadi headline?

Saya akhirnya sadar, berita buruk bukan sekadar kabar buruk. Ia adalah komoditas. Semakin membuat orang marah, semakin laku. Semakin membuat rakyat saling serang, semakin ramai. Media tidak perlu ikut baku hantam. Mereka cukup menyalakan api, lalu duduk manis menghitung klik.

Dan kita?
Kita sibuk saling membenci, padahal sedang membaca cerita yang sama, hanya dari sudut kamera yang sengaja dimiringkan.

Saya tidak sedang membela pemda.
Saya juga tidak sedang membela media.
Saya cuma ingin bertanya pelan-pelan ke diri sendiri:

kalau minus kecil bisa membuat kita saling mencakar,
kenapa minus triliunan sering cuma jadi berita lewat?

Mungkin karena kemarahan kita juga sudah diarahkan.
Seperti senter, diarahkan ke tempat tertentu, supaya tempat lain tetap gelap.

Dan di situlah saya memilih berhenti berteriak.
Bukan karena tidak peduli,
tapi karena saya mulai sadar:
kadang yang paling berisik, justru bukan yang paling jujur.

You May Also Like

0 komentar