Algoritma Sosok Masa Lalu, Bias Saya, dan Teori Konspirasi Suami Ideal
Saya menulis ini sambil senyum miring. Bukan senyum bangga, bukan senyum menang, tapi senyum orang yang sadar: oh, ini bias saya lagi jalan. Bias yang kejam, sedikit usil, dan untungnya—masih sadar diri.
Saya kadang melihat timeline seseorang dari masa lalu. Tidak sering, tidak juga niat. Seperti debu yang kebetulan lewat di mata. Isinya nyaris selalu sama: potongan-potongan konten tentang suami ideal, suami yang seharusnya, suami yang hadir, suami yang peka, suami yang—pokoknya bukan suami yang ada di rumahnya sekarang. Dan di kepala saya langsung muncul teori yang tentu saja tidak ilmiah: orang jarang bicara tentang sesuatu yang sudah beres. Yang ramai dibicarakan biasanya yang bocor, yang kurang, yang ngilu kalau ditekan sedikit.
Lalu saya refleks bercermin. Istri saya? Tidak pernah share beginian. Bukan karena ia suci atau tercerahkan, tapi mungkin karena ia sedang sibuk hidup. Sibuk dengan hal remeh yang tidak instagramable: pasar, sekolah, capek, ketawa receh. Saya sadar ini asumsi. Asumsi yang manja. Asumsi yang berdiri di atas kursi empuk bernama “hidup saya sekarang cukup”.
Yang bikin makin absurd, saya juga sering share hal-hal sepele: antar anak sekolah, nemenin anak ngobrol, nganter istri beli bawang. Bukan pamer, bukan manifesto suami idaman. Itu cuma jurnal hidup saya yang kecil-kecil. Tapi di kepala saya yang nakal ini muncul lagi bisikan jahat: jangan-jangan hal remeh ini justru yang dia inginkan. Nah, di sini bias saya menepuk pundak saya sambil ketawa: “Tenang, Bro. Ini bukan tentang kamu. Ini tentang cerita yang belum selesai di kepalanya.”
Saya tahu ini kejam. Saya tahu ini sepihak. Saya bahkan tahu ini tidak adil. Tapi manusia mana yang pikirannya steril dari lintasan seperti ini? Bedanya mungkin cuma satu: saya tidak betah tinggal lama-lama di situ. Saya mampir, nyengir, lalu balik lagi ke dapur—tempat realitas saya berlangsung tanpa caption.
Kalau saya jujur, hidup saya sekarang terasa sustain. Tidak sempurna, tapi cukup. Ekonomi jalan, psikis tidak bocor, relasi tidak penuh drama. Di sisi lain, saya melihat seseorang yang mungkin ekonominya aman, tapi psikisnya seperti habis dipakai lembur tanpa kopi. Lagi-lagi: ini versi kepala saya. Bukan kebenaran universal. Saya tahu.
Yang lucu, saya tidak merasa iri. Juga tidak merasa menang. Yang ada justru rasa canggung kecil: oh, ternyata hidup bisa bercabang sejauh ini hanya karena pilihan-pilihan lama. Dan di cabang yang satu, orang membangun realitas lewat konten. Di cabang lain, saya membangun realitas lewat kehadiran—yang sialnya tidak bisa diunggah semua.
Jadi ya, tulisan ini murni bias. Bias yang lahir dari sejarah, diberi makan oleh algoritma, lalu ditertawakan sendiri sebelum jadi racun. Saya menulisnya bukan untuk menyimpulkan siapa benar siapa salah, tapi untuk mengakui satu hal sederhana: pikiran manusia itu licin. Dan cara paling aman menghadapinya adalah dengan menertawakannya sebelum ia merasa paling pintar.
Setelah ini? Saya tutup aplikasi. Balik ke hidup saya. Karena pada akhirnya, realitas yang paling waras adalah yang tidak perlu dibela, tidak perlu diumumkan, dan tidak sibuk membandingkan. Yang lain-lain? Biarlah jadi cerita di timeline orang lain.
0 komentar