Dulu Ototnya Kuat, Sekarang Otaknya Pegal

by - 6:00 PM

Saya sering membayangkan manusia zaman dulu.

Bukan versi film, bukan yang berotot kinclong pakai cawat estetik, tapi manusia sungguhan yang hidupnya bergantung pada satu hal: tenaga.

Berburu.
Mengangkat.
Memukul.
Bertahan.

Otot adalah senjata utama.
Pikiran? Ya dipakai secukupnya.
Yang penting tangan kuat, kaki tahan, punggung tidak patah sebelum senja.

Kalau ada konflik, selesai dengan dorong-mendorong.
Kalau ada masalah, diselesaikan dengan siapa yang lebih kuat berdiri paling lama.

Medan tempurnya jelas: alam.


Lalu saya menengok ke diri saya hari ini.

Bangun tidur bukan pegal karena berburu,
tapi karena kepala belum berhenti mikir sejak semalam.

Otot? Ya ada.
Tapi dipakai untuk duduk.
Jari-jari lebih terlatih menekan layar daripada menggenggam tombak.

Senjata saya bukan lagi tenaga kasar,
melainkan akal.

Strategi.
Narasi.
Kalimat.
Logika.

Kalau ada konflik, tidak saling pukul,
tapi saling adu argumen.
Kalau ada masalah, selesai dengan siapa yang paling lihai menjelaskan.

Medan tempurnya juga jelas: pikiran.


Menariknya, kita sering tergoda untuk membandingkan.

“Manusia dulu lebih tangguh.”
“Manusia sekarang lebih cerdas.”

Padahal mungkin bukan soal lebih atau kurang,
tapi berbeda arena.

Manusia dulu akan kewalahan di ruang rapat.
Manusia sekarang akan gemetar di hutan tanpa sinyal.

Yang satu kuat secara fisiologis.
Yang lain kuat secara kognitif.

Yang satu bisa mengangkat batu besar.
Yang lain bisa menggeser persepsi orang lain tanpa menyentuh apa pun.


Saya sadar, tubuh saya sekarang tidak dirancang untuk mengangkut kayu gelondongan.
Tapi pikiran saya dipaksa mengangkut ekspektasi, tuntutan, citra diri, dan ribuan makna yang tak terlihat.

Manusia dulu pulang lelah karena badan.
Manusia sekarang pulang lelah karena kepala.

Dan sama-sama kelelahan.


Kalau manusia zaman dulu senjatanya adalah otot,
manusia hari ini senjatanya adalah akal.

Masalahnya, akal tidak pernah benar-benar bisa istirahat.
Otot bisa lelah lalu tidur.
Pikiran bisa lelah tapi tetap terjaga.

Mungkin itu sebabnya,
manusia modern sering terlihat utuh di luar,
tapi ringkih di dalam.


Saya akhirnya berhenti mencari mana yang lebih hebat.

Karena tidak ada manusia yang “lebih unggul” secara mutlak.
Yang ada hanya manusia yang cocok atau tidak cocok dengan zamannya.

Manusia kuat otot di zaman pikiran akan tersingkir.
Manusia kuat pikiran di zaman otot akan tumbang.

Bukan salah siapa-siapa.
Hanya beda medan tempur.


You May Also Like

0 komentar