Saya Tidak Ketindihan Jin, Saya Cuma Lupa Logout dari Hidup

by - 6:00 AM

Saya sudah lama akrab dengan satu pengalaman mistis yang sebenarnya sangat tidak mistis: sleep paralysis.

Ketindihan, kata orang kampung.
Dipeluk hantu, kata tetangga.
Ditindih jin, kata orang dewasa yang kehabisan kosakata medis.

Sejak kecil, ini seperti ritual tahunan—bahkan kadang bulanan.
Bangun setengah sadar, dada berat, tubuh tidak bisa bergerak, ingin teriak tapi suara tertelan.
Dan tentu saja, narasi yang menempel selalu sama: “Kamu kebanyakan mikir. Kamu berteman sama yang nggak kelihatan.”

Masalahnya, rumah saya waktu itu memang cocok dijadikan latar film horor kelas B.
Tujuh bersaudara.
Enam laki-laki barbar.
Satu perempuan yang harus hidup bersama enam calon tersangka tawuran.
Rumah berantakan, suara ribut, tidur telat, bangun pagi, lalu dimarahi karena tidak bisa diam.

Dalam logika orang dewasa waktu itu, kesimpulannya sederhana:
rumah kotor = sarang jin.
anak ketindihan = diganggu makhluk halus.

Tidak ada yang kepikiran kemungkinan lain:
anak ini capek.
anak ini kebanyakan mikir.
anak ini hidup di rumah yang tidak pernah benar-benar sunyi.

Sleep paralysis lalu berubah fungsi.
Bukan lagi gejala fisiologis, tapi bukti sosial bahwa saya “agak lain”.
Saya bukan kurang tidur, saya kurang doa.
Bukan kelelahan saraf, tapi kurang bersih rumahnya.

Lucunya, sekarang setelah dewasa, polanya terbaca dengan sangat membosankan.
Kalau batin rapi, badan santai, tidur cukup: aman.
Kalau siang kerja barbar, malam mikir panjang, emosi ditahan, lalu tidur tanpa jeda:
ya… ketindihan lagi.

Tidak ada bayangan hitam.
Tidak ada sosok duduk di dada.
Yang ada hanya tubuh berkata:
“Gue off dulu ya.”
Dan otak menjawab:
“Belum.”

Dulu saya panik.
Sekarang saya cuma mikir: oh, lagi error jadwal.

Sleep paralysis bagi saya hari ini bukan pengalaman horor.
Ia seperti notifikasi sistem.
Bukan jin yang duduk di dada, tapi kesadaran yang belum selesai bekerja.

Dan bagian paling ironisnya adalah ini:
Dulu saya dicap aneh karena ketindihan.
Sekarang saya sadar, yang aneh itu adalah ekspektasi bahwa anak kecil di rumah ribut harus selalu baik-baik saja secara mental.

Saya masih bisa ketindihan sampai sekarang.
Bedanya, saya tidak lagi merasa dipilih makhluk gaib.
Saya cuma tahu:
saya capek.

Kalau kejadian lagi, saya tidak baca ayat kursi sambil panik.
Saya tarik napas pelan, menunggu tubuh dan pikiran berdamai.
Karena saya tahu, ini bukan siapa-siapa yang datang.
Ini cuma saya yang lupa pamit sebelum tidur.

Dan jujur saja,
lebih masuk akal merasa lupa logout dari hidup,
daripada merasa ada jin yang hobi nongkrong di dada saya sejak SD.

Besok paginya, saya bangun lagi.
Ngopi.
Kerja.
Live jualan daster.
Ketawa lagi.

Jin pulang.
Capeknya tinggal.

Dan saya hidup seperti biasa—
dengan sedikit lebih paham bahwa tubuh juga punya batas,
dan ia kadang bicara lewat cara yang disalahpahami orang dewasa sejak lama.

You May Also Like

0 komentar