Epilog: Semua Orang Punya Kolong Ranjang

by - 12:00 PM


Pada akhirnya, saya menyadari satu hal penting yang sering luput dari buku filsafat, seminar parenting, dan konten motivasi lima menit sebelum tidur:

Tidak ada manusia yang benar-benar “paling keras”.

Abang saya memang gagah.
Perawakannya tegap.
Pengalamannya brutal.
Riwayat hidupnya bisa dijadikan materi film laga kelas B yang tayang jam dua pagi.

Ia lolos dari tawuran, kejaran, hampir mati beberapa kali, dan entah kenapa masih hidup sampai sekarang.
Saya kagum. Saya takzim. Saya duduk mendengar seperti murid pesantren mendengarkan kisah wali.

Tapi hidup itu adil dengan cara yang lucu.

Saya—yang katanya lembek, tumbuh rapi di asrama, hidup tanpa drama jalanan—
ternyata santai masuk makam, berani di tempat sunyi, dan tidak terlalu peduli pada hal-hal yang membuat abang saya merinding.

Kami jadi bestie bukan karena mirip,
tapi karena saling menertawakan kelemahan masing-masing.

Ia Gargantuar.
Saya Imp.
Kombinasi aneh, tapi efektif.

Dan puncak kebijaksanaan hidup itu muncul bukan saat diskusi berat,
melainkan ketika kami tertawa berdua,
menyaksikan sepupu kami ngambek karena tidak kebagian THR
lalu memilih bersembunyi di kolong ranjang
seperti strategi bertahan hidup paling masuk akal di dunia.

Di situ saya paham:

Sebrutal apa pun masa lalu seseorang,
sesakti apa pun batinnya orang lain,
semua manusia punya titik takut yang tidak rasional.

Ada yang takut kehilangan kontrol.
Ada yang takut disuntik.
Ada yang takut gelap.
Ada yang takut hantu.

Dan itu tidak apa-apa.

Karena justru di situlah kita jadi manusia,
bukan legenda.

Maka malam ini saya tutup hari dengan satu kesimpulan sederhana: dunia memang keras,
hidup memang absurd,
tapi selama kita masih bisa menertawakan diri sendiri—
terutama ketakutan kita yang paling konyol—
berarti kita belum kalah.

You May Also Like

0 komentar