Etika Tidak Memungut Tai di Media Sosial

by - 3:00 AM

 Saya mulai curiga bahwa media sosial itu bukan ruang tamu, melainkan saluran pembuangan bersama. Bukan tempat orang duduk rapi sambil menyilangkan kaki dan berdiskusi dengan alis terangkat, tapi lebih mirip deretan kloset batin yang berjajar rapi, siap dipakai siapa saja yang kepalanya sudah penuh.

Di situlah emak-emak, bapak-bapak, anak kos, CEO menyamar, sampai kucing yang bisa ngetik, membuang sesuatu dari dalam dirinya. Kadang cuma kesal karena dada dicakar kucing. Kadang marah karena kang cuanki mukulin mangkok jam enam pagi. Kadang cuma nyeletuk, tanpa niat, tanpa strategi, tanpa target. Tembak. Dor. Selesai.

Masalahnya bukan pada orang yang membuang. Limbah itu perlu keluar. Kalau tidak, dia mengendap, lalu bocor ke mana-mana: ke badan, ke relasi, ke wajah yang menua sebelum waktunya. Masalah justru muncul saat ada orang lain yang lewat, berhenti, jongkok, lalu memungut tai itu dengan tangan kosong. Diendus. Dianalisis. Lalu tersinggung.

Saya sering melihat adegan aneh ini. Ada orang menulis status sambil ngos-ngosan, jelas-jelas sedang flush emosi. Harusnya selesai. Tapi entah kenapa, selalu ada yang merasa terpanggil untuk berkata, “Kok kamu buang limbah sih? Tidak etis. Tidak dewasa. Tidak mencerminkan nilai luhur.”

Lah.

Siapa suruh ambil?

Kalau sudah tahu itu limbah, kenapa dipungut? Kenapa malah dipeluk, dibawa ke dada, lalu marah karena bau? Ini seperti melihat orang BAB, lalu mendekat sambil mengkritik aromanya. Bukan salah orang yang BAB, tapi salah yang mendekat sambil sok peka.

Di titik ini saya mulai paham: banyak konflik di media sosial bukan karena orang jahat, tapi karena orang penasaran. Mereka ingin memastikan, “Ini tai atau bukan ya?” Padahal begitu disentuh, perang sudah pasti. Tidak ada cerita damai setelah itu. Yang ada hanya debat, tangkapan layar, dan energi yang habis untuk sesuatu yang seharusnya selesai di kloset.

Menariknya, saya melihat pola yang berulang. Akun perempuan sering lebih ramai, lebih blak-blakan, lebih jujur. Mereka menembak apa yang ada di kepala, tanpa disimpan. Buang racun, buang limbah, lalu hidup berlanjut. Timeline mereka berisik, tapi tubuhnya relatif awet. Rawat jalan, bukan rawat inap.

Sebaliknya, banyak laki-laki memilih diam. Menelan ego. Menyimpan. Tampak tenang, tapi bocornya ke mana-mana. Ke kesehatan, ke rumah, ke wajah yang cepat renta. Saya nyeletuk usil: pantesan janda lebih banyak daripada duda. Bukan karena perempuan lebih kuat, tapi karena mereka tidak menyimpan tai terlalu lama.

Di titik ini saya belajar satu hal penting: kecerdasan sosial bukan soal ikut berkomentar, tapi soal tahu kapan lewat sambil mengangkat alis sedikit. Saya sering memilih begitu. Melihat status orang marah, lalu bergumam netral, “Ini orang kenapa sih?” dan berjalan terus. Tidak memungut. Tidak mengomentari. Tidak merasa perlu jadi polisi moral.

Tentu saja ada batas. Kalau limbah itu berubah jadi lemparan ke muka orang lain, jadi SARA, jadi hasutan, itu bukan lagi buang kotoran di toilet. Itu buang hajat di fasilitas umum. Di titik itu, saya tidak keberatan menegur: tolong buang di tempatnya.

Tapi selebihnya, saya belajar untuk tidak sok bersih. Timeline bukan kitab suci. Status bukan undangan debat. Emosi yang dibuang bukan tanggung jawab publik untuk diolah bersama.

Etika paling dasar di media sosial mungkin sesederhana ini: jangan memungut tai orang lain kalau kamu tidak siap mencium baunya. Jangan penasaran pada limbah, karena ujungnya selalu sama—ribut, capek, dan tidak ada yang lebih waras setelahnya.

Saya memilih lewat. Membiarkan orang menyiram kloset batinnya sendiri. Karena hidup sudah cukup rumit tanpa harus jadi petugas kebersihan emosi orang lain.


You May Also Like

0 komentar