Aku Salah Seragam, Tapi Aku Sudah Datang ke Sekolah
Hari itu aku bangun agak telat.
Aku pakai baju sendiri, soalnya ibu lagi sibuk dan ayah sudah pergi.
Aku tahu hari ini bukan seragam ini.
Tapi aku tetap berangkat, karena aku tidak mau bolos.
Di jalan aku mikir,
“Yang penting aku sampai sekolah.”
Di kelas, aku duduk seperti biasa.
Buku sudah siap.
Aku sebenarnya pengin belajar.
Lalu namaku dipanggil.
Aku berdiri.
Katanya seragamku salah.
Aku tahu. Aku tidak bilang apa-apa.
Aku dihukum.
Aku tidak menangis.
Aku juga tidak marah.
Aku cuma merasa… dingin.
Sejak itu, aku belajar satu hal:
datang ke sekolah tidak selalu berarti diterima.
Aku pulang dengan seragam yang sama,
tapi rasanya berbeda.
Seperti ada yang tertinggal di kelas—
bukan bukuku, tapi semangatku.
Besoknya aku datang lagi.
Seragamku benar.
Tapi aku tidak terlalu ingin bicara.
Aku duduk, mendengar, menulis.
Nilai tetap jalan.
Tugasku selesai.
Tapi aku tidak lagi merasa perlu menjelaskan apa pun.
Aku tahu aturan itu penting.
Aku tidak benci sekolah.
Aku hanya berharap, waktu aku berdiri karena salah,
ada yang bilang:
“Tidak apa-apa. Kamu sudah datang.”
Karena sebenarnya,
datang itu juga usaha.
Sekarang aku sudah besar.
Aku jarang salah seragam lagi.
Tapi tiap kali melihat anak berdiri di depan kelas,
aku ingat rasanya.
Bukan rasa malu.
Bukan takut.
Rasanya seperti ini:
aku ada, tapi tidak dilihat.
0 komentar