Salah Kostum, Benar Niat: Catatan Seorang Murid Tua yang Pernah Dihukum Karena Kaus Kaki
Saya tumbuh di zaman sekolah yang sederhana.
Seragam cuma tiga: putih, pramuka, olahraga.
Datang ke kelas, duduk manis, belajar, pulang.
Tidak banyak pilihan, tapi juga tidak banyak ribet.
Sekarang, saya mengantar anak ke sekolah dengan kalender kecil di kepala.
Hari ini seragam A, besok B, lusa C.
Eskul satu seragam, eskul lain seragam lagi.
Niatnya bagus, saya tahu. Disiplin, identitas, keteraturan. Saya tidak sedang mengeluh.
Saya hanya merasa… capek di permukaan.
Sebagai orang tua, energi kami sering habis untuk memastikan anak tidak salah kostum.
Padahal, yang ingin saya pastikan sebenarnya sederhana:
anak saya datang ke sekolah dengan batin yang utuh.
Saya melihat—dan kadang mendengar—anak dihukum karena salah seragam.
Alasannya jelas: lalai.
Tapi penyebabnya jarang ditanya.
Apakah ia terburu-buru karena pagi di rumah tegang?
Apakah ia menyiapkan baju sendiri karena orang tuanya belum bangun?
Atau sekadar anak kecil yang masih belajar mengelola pagi?
Sering kali, pertanyaan itu tidak sempat muncul.
Yang muncul duluan adalah hukuman.
Dan saya kenal efeknya.
Anak jadi dingin.
Bukan karena ia tidak paham aturan,
tapi karena usahanya tidak dilihat.
Pengalaman itu mengingatkan saya pada hal lain, jauh sebelum saya jadi orang tua.
Soal wudhu.
Saya pernah berwudhu dengan sungguh-sungguh, berusaha benar.
Lalu seseorang berkata,
“Kalau wudhumu seperti itu, kamu bisa masuk neraka.”
Sejak itu, wudhu saya rapi.
Tapi batin saya kaku.
Bayangkan kalau narasinya diganti sedikit saja:
“Kamu sudah berusaha. Saya bantu luruskan biar sempurna.”
Gerakannya mungkin sama.
Dampak batinnya tidak.
Saya sadar, masalahnya bukan pada aturan.
Masalahnya pada cara kuasa berbicara.
Ketika manusia sudah berusaha, lalu tetap berdiri di ujung senjata hukuman,
ia belajar satu hal pelan-pelan:
berusaha atau tidak, rasanya sama saja.
Di situlah dingin mulai tumbuh.
Sekolah seharusnya tempat belajar, bukan etalase kerapian.
Agama seharusnya membimbing, bukan menakut-nakuti.
Dan orang dewasa—termasuk saya—perlu sesekali bertanya sebelum menghakimi:
“Anak ini salah, atau sedang belajar?”
Saya tidak sedang minta aturan dihapus.
Saya hanya berharap aturan diberi wajah manusia.
Karena kadang, yang paling ingin dilihat seorang anak bukan seragamnya benar atau salah,
tapi satu hal sederhana:
“Oh, kamu sudah berusaha.”
Dan bagi saya, itu sudah cukup adil.
0 komentar