Ceker, Medusa, dan Katup Panci Presto

by - 9:00 PM

Saya tumbuh dari piring yang tidak pernah adil menurut standar majalah keluarga bahagia. Di meja makan, bagian dada dan paha selalu cepat hilang. Yang tersisa buat saya: ceker, kepala, usus. Emak bilangnya sambil lalu, seolah itu ilmu dapur biasa, bukan filsafat hidup. Makan ceker biar kuat napak. Makan kepala biar mikir. Saya ketawa, mengunyah, dan hidup berjalan.

Belakangan saya sadar, emak tidak sedang mengajar teori. Emak sedang bertahan. Realitas boleh pahit, tapi narasi jangan meracuni. Itu prinsipnya. Dan saya—tanpa sadar—mewarisi caranya: capek boleh bocor, tapi jangan meledak.

Emak yang Menangis, Emak yang Sehat

Aneh rasanya melihat emak sekarang. Usianya paling sepuh di desa, tapi ingatannya masih tajam. Badannya bungkuk, tapi tidak bertongkat. Wajahnya menyimpan sisa-sisa cantik yang tidak ribut. Ia menangis tiap bertemu saya. Dulu saya kira itu sedih. Ternyata haru.

Saya pernah nyeletuk sambil ketawa, Mak, modal apa sih yang emak kasih ke saya? Kita kan miskin. Emak diam. Lalu menangis. Saya ikut diam. Lalu ikut menangis. Rupanya doa yang tidak pernah berhenti itu bukan modal kecil. Itu modal yang membuat saya tidak berubah jadi batu saat hidup menekan.

Di titik itu saya paham: saya bukan besar karena berhasil keluar dari kemiskinan, tapi karena tidak memusuhi asal-usul saya. Ceker tidak pernah menuntut jadi paha. Ia hanya kuat menopang.

Raut Wajah dan Batin yang Bekerja

Saya perhatikan raut wajah orang-orang di sekitar saya. Ada yang muda tapi cepat lelah. Ada yang tua tapi matanya masih bercanda. Ada dosen 70 tahun yang ngajarnya nyeletuk—kelas hidup. Ada dosen 40-an yang wajahnya sudah menyerah.

Saya curiga: batin yang bekerja pelan-pelan membuat wajah punya umur cadangan. Bukan botox, bukan serum. Tapi humor kecil yang tidak dirampas hidup.

Saya dan beberapa saudara saya ketawa dengan logika bengkok. Takut hantu. Iseng. Usil. Dan entah kenapa, wajah kami menolak cepat tua. Mungkin karena tiap hari kami membuka katup, bukan menahan tekanan.

Medusa di Sarang Penyamun

Saya berdagang daster. Di live. Di sarang penyamun bernama kolom komentar. Medusa berkeliaran. Kepala panas. Anak hilang kaos kaki. Suami nyari kunci motor. Daster bukan soal motif, tapi soal bertahan agar tidak jadi batu.

Saya bicara berlapis. Ngomel sambil menenangkan. Menghibur sambil mengarahkan. Saya panggil rasa capek itu dengan nama: Medusa. Supaya bisa ditertawakan, bukan ditakuti.

Aneh tapi nyata: saat saya mengakui capek mereka, transaksi jalan. Bukan karena saya pintar jualan. Tapi karena saya tidak sok bijak. Saya manusia yang mengerti dapur, bukan malaikat etalase.

Katup Panci Presto

Saya belajar satu hal penting: emosi itu uap. Kalau ditahan, meledak. Kalau dibuka sembarangan, melukai. Maka saya pilih membuka katup di tempat aman—di cerita, di tawa, di absurditas.

Saya tidak teriak di jalan. Tidak menumpahkan ke orang rumah. Saya bocorkan pelan-pelan, dengan humor, dengan metafora dapur. Panci presto mengajarkan saya: buka katupnya, bukan tutupnya.

Kesimpulan yang Tidak Sok Bijak

Saya tidak ingin jadi manusia sempurna. Saya ingin jadi manusia utuh. Yang makan ceker tanpa iri. Yang melihat Medusa tanpa panik. Yang tahu kapan harus menenangkan dan kapan harus menertawakan diri sendiri.

Kalau suatu hari saya diangkat ramai-ramai ke peristirahatan terakhir, saya harap orang tidak bilang saya sukses. Cukup bilang: dia waras. Itu sudah lebih dari cukup.

Dan kalau di hotel bintang lima saya tetap nanya oseng daun pepaya, itu bukan bercanda. Itu pengakuan setia pada dapur tempat filsafat saya lahir.

Sudah saya susun jadi satu napas—nakal, absurd, reflektif—dan saya taruh rapi di kanvas.
Isinya sengaja tidak “dibagus-bagusin”, karena kekuatannya justru di dapur, di ceker, di Medusa, dan di katup panci presto yang kamu ceritakan itu.


You May Also Like

0 komentar