Saya Kesal pada Uang Tunai, Lalu Menemukan Bias Saya Sendiri

by - 12:00 AM

Akhir-akhir ini, saya sering kesal pada hal kecil: pedagang jajanan yang hanya mau menerima uang tunai. Tidak ada QRIS, tidak ada e-wallet, tidak ada kompromi. Cash, titik.

Padahal bagi saya—dan saya rasa bagi banyak orang—hidup sudah lama berpindah ke cashless. Beli sayur, beli kopi, bayar parkir, sampai beli elektronik, semua bisa QRIS. Jadi ketika berhadapan dengan gerobak kecil yang menolak semua itu, reaksi pertama saya bukan lagi bertanya, tapi menggerutu dalam hati.

Saya bahkan pernah menawarkan solusi: saya bayar QRIS lewat pedagang sebelah. Numpang transfer. Uangnya nanti saya kasih ke dia. Tetap tidak mau. Transaksi batal.

Waktu itu saya cuma bisa bilang, “oh.”

Belakangan saya sadar, ini bukan soal teknologi. Bukan juga soal ekosistem QRIS yang belum merata. QRIS itu mudah didapat. Justru ini soal kemauan beradaptasi.

Alasan klasik selalu muncul: ada biaya admin, ribet tarik dana. Padahal kalau saya di posisi pedagang, mungkin saya akan berpikir sebaliknya. Ada admin sedikit tidak apa-apa, yang penting ada pembeli. Jajan lima ribu hari ini bisa jadi lima puluh ribu besok. Tanpa QRIS, uang kecil jadi masalah besar: orang bawa pecahan lima puluh ribu, dagangan lima ribu, kembalian tidak ada, transaksi batal.

Saya pernah mendengar pedagang yang sama mengeluh, “Sekarang dagang susah, sepi, Indonesia lagi nggak baik-baik saja.”

Saya melirik gerobaknya. Tidak ada QRIS. Dalam hati saya nyeletuk sinis: ya pantes.

Dan di situ saya sadar, saya juga mulai kejam dalam kepala.

Kejadian lain lebih melelahkan. Saya makan bakso di tempat yang menurut saya “layak modern”: ada gazebo, tempatnya luas, ada karyawan. Saya tidak bertanya soal metode pembayaran—saya berasumsi. Salah saya, mungkin. Tapi asumsi itu lahir dari kebiasaan hidup hari ini.

Saat mau bayar, nominalnya kecil. Lima puluh ribu. Tidak bisa QRIS. Tidak bisa transfer. Tidak bisa e-wallet. Semua pintu tertutup kecuali cash.

Saya sudah kepanasan, kepedasan, dan emosi menumpuk. Disuruh ke ATM yang lumayan jauh. Saya banting setir mobil, tarik tunai di minimarket. Di sana muncul episode tambahan: tukang parkir minta uang. Saya sodorkan lima puluh ribu, dia nyolot karena tidak ada kembalian.

Di kepala saya cuma ada satu kalimat: ada apa dengan dunia hari ini?

Setelah kembali dan bayar, si kasir bilang dengan nada biasa saja, “Maaf ya pak, ini punya pak polisi, jadi hanya terima cash.”

Dan di situlah pikiran saya melompat jauh. Terlalu jauh.

Saya langsung membangun stigma: usaha sampingan, pencucian uang, supaya tidak terdeteksi, makanya hanya cash. Saya tahu, ini asumsi. Saya tahu ini bias. Tapi tetap saja pikiran itu muncul begitu cepat, begitu rapi, seakan sudah disiapkan sebelumnya.

Saya bilang dalam hati: kapok jajan di sini.

Beberapa waktu kemudian saya lewat lagi. Gerai itu semakin sepi. Hidup segan mati tak mau. Yang sering terlihat justru wajah-wajah yang saya kenali sebagai “bukan pembeli biasa”. Om-om rapi datang di jam kerja, kadang HT menyembul dari balik celana.

Dan lagi-lagi, otak saya bekerja liar.

Di titik ini saya berhenti. Saya tarik napas. Saya sadar, ada dua hal yang berjalan bersamaan.

Yang pertama: realitas adaptasi. Dunia memang sudah cashless, dan menolak beradaptasi punya konsekuensi ekonomi nyata.

Yang kedua: bias saya sendiri. Saya mudah mengaitkan pilihan sederhana dengan narasi besar. Saya cepat memberi makna, cepat mencurigai, cepat menghakimi—karena lelah, karena panas, karena dunia memang sedang bising.

Akhirnya saya memilih sikap paling sederhana: berhenti berdebat di kepala. Kalau tidak ada QRIS, ya sudah. Saya tidak memaksa. Saya juga tidak merasa perlu membenarkan diri sendiri.

Saya cukup bilang, “oh,” lalu pergi.

Bukan karena saya kalah argumen. Tapi karena saya sadar, tidak semua hal perlu dimenangkan. Kadang, yang lebih penting adalah menyadari: kesal saya valid, tapi prasangka saya belum tentu.

Dan itu sudah cukup sebagai penutup hari.


You May Also Like

0 komentar