Tentang Takut, Marah, dan Anak-anak yang Belajar Bertahan

by - 6:00 AM

Saya tidak bermaksud membandingkan.

Setidaknya itu yang selalu saya katakan pada diri sendiri.

Karena jujur saja, pola asuh ini bukan sesuatu yang saya baca dari buku parenting terbaru. Saya sudah merasakannya lebih dulu, di tubuh saya sendiri, jauh sebelum punya anak.

Sepupu anak saya tumbuh dengan pola asuh yang berbeda. Bukan jahat, bahkan niatnya sangat mulia:
rumah rapi, anak patuh, dan ada sesuatu yang harus ditakuti agar hidup tertib.

Kalimat yang ia terima sehari-hari sederhana dan tegas: “Jangan.”
“Nggak boleh.”
“Kamu harus begini.”

Kalimat-kalimat yang belakangan saya sadari sebagai diksi pembunuh logika—karena saya juga tumbuh dengannya.
Versi klasiknya: “Tidur, nanti ada hantu.”

Ia tumbuh seperti anak-anak lain.
Luwes. Aktif. Pintar bercanda.

Hanya satu hal yang selalu mengganggu pikiran saya.

Ketika ia marah, ia meledak.

Tantrumnya bukan tangis.
Tantrumnya adalah lemparan.

Mainan dilempar ke segala arah. Properti jadi sasaran. Tubuhnya sendiri seolah ikut berperang. Tidak bisa ditenangkan, tidak bisa diajak bicara, sampai energinya habis sendiri.

Bandingkan dengan anak saya.

Kalau ia marah, kami biarkan.
Ia menangis, iya.
Ia kecewa, iya.
Tapi tidak membanting, tidak melukai, tidak menyerang.

Tangisnya tetap tangis—bukan amukan.

Dan anehnya, pola ini mengingatkan saya pada abang kelima saya.

Ia menjawab kebingungan dengan cara yang jauh lebih besar skalanya:
tawuran.
masuk tahanan.
pendampingan orang dewasa.
lalu selesai—setidaknya secara administratif.

Tantrum versi dewasa.

Saya tidak sedang menyalahkan siapa pun.
Saya tahu dunia ini keras.
Saya tahu tidak semua anak yang dibesarkan dengan ketakutan akan tumbuh agresif.

Abang saya, misalnya, masih hidup. Itu sudah prestasi tersendiri.

Hanya saja…
saya tidak bisa menyingkirkan satu kekhawatiran kecil yang terus berisik di kepala saya:

Bagaimana kalau yang berikutnya tidak seberuntung itu?

Di rumah kami, anak kami tidak dituntut untuk takut pada kami.
Ia bahkan boleh mengkritik kami.
Dan yang paling berat—kami berani meminta maaf ketika ia benar.

Bukan karena kami lemah.
Tapi karena kami ingin ia belajar satu hal sederhana:
otoritas tidak selalu benar, dan marah tidak harus merusak.

Saya tidak menganggap pola asuh kami lebih baik.
Saya hanya mencoba memutus satu mata rantai.

Rantai di mana ketakutan disimpan terlalu lama,
lalu bocor dalam bentuk amarah yang tidak tahu arah.

Abang saya kini gagah.
Perawakannya tegap.
Pengalamannya keras.

Hanya satu hal yang tersisa dari masa kecilnya:
ia masih takut hantu.

Dan setiap kali saya mengingat itu, saya tertawa kecil—
bukan mengejek, tapi getir.

Karena kadang, yang paling lama bertahan dari pola asuh bukan luka yang terlihat,
melainkan ketakutan kecil yang tidak pernah diajak bicara.

Saya tidak ingin anak saya kuat karena terbiasa menahan.
Saya ingin ia kuat karena tahu:
marah boleh, takut wajar, dan dunia tidak harus dihadapi dengan melempar apa pun ke sekitarnya.

Kalau itu terdengar naif, tidak apa-apa.
Setidaknya, ini naivitas yang saya pilih dengan sadar.

You May Also Like

0 komentar