Di Rumah Ini, Anjing Punya Nama Panggilan, Anak Punya Julukan
Saya menyadari ada hierarki sosial baru di rumah-rumah modern.
Bukan kaya–miskin.
Bukan tua–muda.
Tapi berbulu dan tidak berbulu.
Anjing saya punya nama panggilan.
Lengkap dengan nada lembut dan intonasi penuh cinta.
“Sayanggg… sini makan dulu yaaa.”
“Jangan lompat-lompat, nanti capek.”
“Kasian banget mukanya, pasti lagi bad mood.”
Anaknya?
Manusia, usia balita.
Nangis karena jatuh.
Lutut berdarah.
Responnya singkat:
“Ah, lebay. Anak kecil mah gitu.
Jangan caper.”
Di titik itu saya paham:
ini bukan rumah tangga biasa.
Ini kerajaan dengan sistem kasta.
Suatu hari saya membayangkan percakapan rahasia, di sudut rumah, antara anak dan anjing.
Anak (lirih):
“Jing… gue pengen jadi lu deh.”
Anjing (menghela napas):
“Deal.
Gue juga sebenernya pengen hidup bebas.
Ngorek sampah.
Pipis ngangkang di pohon.
Gonggong orang random.”
Anak:
“Lah… itu kan yang gue lakuin.”
Anjing:
“Nah.
Lu hidup kayak anjing,
gue hidup kayak anak majikan.”
Anak terdiam.
Logikanya runtuh.
Anjing lanjut, agak bersalah:
“Lu nangis dikit dibilang drama.
Gue muntah dikit dibawa ke dokter.”
Anak:
“Dokternya?”
Anjing:
“Dokter spesialis. Parkirnya Alphard.”
Anak mengangguk pelan.
Ia mulai paham dunia.
Di ruang lain, sang ibu mencium pipi anjing sambil berkata:
“Anak mama paling setia.”
Anaknya menangis di pojok.
Komentar ibunya tanpa menoleh:
“Caper banget sih.”
Saya berdiri di tengah ruangan, berpikir keras.
Bukan soal benci hewan. Saya juga suka hewan.
Hewan itu jujur. Tidak berdebat. Tidak menyanggah. Tidak bilang, “Tapi menurut aku…”.
Mungkin itu sebabnya.
Hewan tidak menuntut kehadiran emosional yang rumit.
Ia cukup dielus, diberi makan, selesai.
Manusia kecil?
Butuh waktu, sabar, dialog, dan cermin diri.
Dan tidak semua orang siap bercermin.
Maka lahirlah absurditas itu:
anjing diasuransikan
anak didoakan
anjing dimandikan rutin
anak disuruh “jangan manja”
Lucu? Iya.
Sedih? Sedikit.
Saya tidak marah.
Saya hanya tertawa pelan.
Karena di dunia yang terbalik ini,
kadang yang paling dimengerti
justru makhluk
yang tidak pernah minta dimengerti.
Dan mungkin, diam-diam,
si anjing juga capek jadi anak emas. 🐶😄
0 komentar