Rajin adalah Fetish Sosial
Saya pernah hidup di fase yang oleh banyak orang disebut “produktif”.
Live panjang.
Sehari bisa 8 jam.
Gantian host.
Lampu daylight nyorot kayak interogasi.
AC dingin tapi badan gerah.
Fokus diperas sampai kering.
Dan hasilnya?
Sama saja
dengan saya live 1,5 jam sendirian.
Di situ saya mulai curiga.
Jangan-jangan yang disembah itu bukan hasil, tapi penampakan rajin.
Rajin berdiri lama.
Rajin begadang.
Rajin capek.
Rajin terlihat menderita.
Padahal tubuh saya sudah protes dari dulu.
Saya nggak kuat fokus lebih dari tiga jam.
Nggak kuat berdiri lama.
Nggak kuat berada di ruang yang panas dan dingin sekaligus.
Nggak kuat berpura-pura baik-baik saja.
Dan alih-alih mendengarkan tubuh, dulu saya memaksa: “Ah, ini kan proses.” “Semua orang juga gini.” “Kalau mau hasil, ya harus rajin.”
Sampai akhirnya saya sadar:
ini bukan tentang rajin.
Ini tentang fetish sosial terhadap penderitaan.
Seolah kalau capeknya kelihatan,
maka hasilnya sah.
Padahal hidup tidak bekerja seperti itu.
Saya ini tipikal orang yang berproses panjang di malam hari.
Bukan lembur kerja—tapi mikir.
Mengurai.
Belajar keras.
Merangkum.
Menyederhanakan.
Orang tidak melihat proses ini.
Karena memang tidak dramatis.
Tapi justru dari situlah sistem hidup saya jadi rapi.
Ini seperti asuransi.
Kalau suatu hari saya sakit,
uang saya tidak langsung terkuras.
Ada yang meng-cover.
Dan di titik ini saya jujur:
saya malas konflik.
Saya malas ribut sama hidup di masa depan.
Saya malas drama.
Saya malas kebakaran jenggot karena keputusan bodoh hari ini.
Makanya saya juga “malas” dalam urusan anak.
Saya malas kalau nanti anak saya:
- kabur dari sekolah,
- tawuran,
- pacaran tapi bingung arah hidup,
- dan saya harus ceramah sambil emosi.
Saya malas.
Maka saya asuransikan dari awal.
Yaudah,
sekolah dengan SPP tinggi saja,
bukan karena gengsi,
tapi karena lingkungannya waras.
Ini bukan pamer.
Ini efisiensi konflik.
Orang melihatnya dan bilang: “Wah, rajin banget mikirin masa depan.”
Padahal aslinya: saya malas ribut nanti.
Di situlah saya akhirnya berdamai: rajin itu sering kali bukan nilai, tapi fetish sosial.
Yang dipuja bukan keberesan,
tapi kesan menderita.
Sementara saya memilih jalan sunyi:
hasil sama,
energi lebih utuh,
dan batin tidak bocor ke mana-mana.
Kalau itu disebut malas,
ya tidak apa-apa.
Saya tidak sedang berlomba jadi rajin.
Saya sedang berusaha hidup lama,
dan tetap waras.
0 komentar