Saya Pernah Menghafal Tuhan, Lalu Bertanya Terlalu Jauh
Saya tumbuh sebagai anak yang rajin.
Hafalan saya rapi. Dua puluh sifat wajib dan mustahil, sifat jaiz, asmaul husna—semua masuk kepala. Nilai sempurna. Guru senang. Orang tua bangga.
Secara administratif, saya murid teladan.
Secara batin, saya ini murid yang kebablasan.
Masalahnya bukan pada hafalan. Masalahnya muncul setelah hafal.
Saya mulai bertanya. Bukan membantah. Bertanya.
Bagaimana manusia bisa memahami sifat-sifat Tuhan yang kelihatannya kontradiktif?
Katanya Maha Pengasih, tapi juga Maha Perkasa. Maha Lembut, tapi Maha Menghukum.
Dan puncaknya: jaiz.
Jaiz itu artinya “boleh”.
Tuhan boleh melakukan apa saja.
Di kepala saya yang polos, itu terdengar sangat jujur.
Berarti Tuhan bebas ngapain saja dong?
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Bukan untuk menghina. Bukan untuk pamer pintar.
Hanya karena… saya penasaran.
Dan seperti biasa, rasa penasaran punya harga.
Guru saya diam.
Wajahnya seperti sedang mengukur: ini anak bertanya atau sedang menantang langit?
Jawabannya tidak keluar dari mulut.
Jawabannya keluar dari rotan.
Plak.
Paha jadi saksi sejarah.
Dari situ saya belajar satu hal penting sejak dini:
tidak semua pertanyaan punya ruang hidup.
Anehnya, saya tidak tumbuh jadi pembenci agama.
Saya juga tidak menjauh dari Tuhan.
Saya justru tetap beribadah, tetap berdoa, tapi membawa satu kebiasaan buruk:
tidak bisa berhenti berpikir.
Bertahun-tahun kemudian, saya kembali bertemu guru saya.
Saya datang membawa anak.
Guru itu menatap saya, lalu tersenyum. Senyum yang tidak marah, tidak menghakimi.
Senyum orang dewasa yang melihat sejarah berjalan.
“Si usil sekarang sudah punya anak,” katanya.
Saya tertawa.
Lalu beliau melakukan sesuatu yang membuat saya ingin tertawa lebih keras:
mengetes anak saya.
Hafalan. Doa. Sifat-sifat Tuhan.
Seolah ingin memastikan:
ini genetik atau cuma fase?
Saya spontan bilang,
“Ibu mau pastiin anak saya nggak seusil ayahnya ya?”
Beliau tersenyum sinis—tapi hangat.
Senyum orang yang akhirnya paham:
dulu itu bukan kenakalan, cuma pikiran yang datang terlalu cepat.
Dan di situ, tanpa upacara, tanpa air mata, saya sadar:
saya sudah berdamai.
Saya tidak lagi ingin menjelaskan ke masa lalu bahwa saya tidak bermaksud kurang ajar.
Saya juga tidak ingin mengubah rotan menjadi pidato filsafat.
Saya cukup mengambil satu keputusan kecil tapi penting:
anak saya tidak perlu takut untuk bertanya.
Kalau dia lupa hafalan, saya bilang,
“Yang penting kamu sudah berusaha.”
Kalau dia bingung, saya bilang,
“Nggak apa-apa belum paham, nanti kita ulang.”
Tidak ada rotan.
Tidak ada ancaman neraka untuk pertanyaan polos.
Saya tidak ingin anak saya menghafal Tuhan sampai hafal,
tapi takut mendekat.
Kalau nanti dia bertanya terlalu jauh,
saya ingin dia pulang dengan senyum—
bukan dengan paha yang perih.
Karena mungkin, berdamai itu bukan tentang memaafkan semua yang terjadi.
Tapi tentang tidak mengulang luka yang sama dengan tangan sendiri.
Dan hari ini, saat saya tertawa mengingat rotan, saya tahu satu hal dengan pasti:
Saya pernah menghafal Tuhan.
Saya pernah bertanya terlalu jauh.
Dan sekarang, saya cukup tenang untuk berkata:
Saya tidak salah bertanya.
Saya hanya lahir di zaman yang belum siap menjawab.
Dan itu tidak apa-apa.
0 komentar