Ketika Saya Memilih Diam di Tengah Tawa yang Salah Tempat
Saya biasanya pulang dari live dengan kepala menyala. Pikiran berloncatan, ide saling sikut, refleksi datang bertubi-tubi seperti antrean yang tidak sabar. Tapi malam ini berbeda. Tidak ada dorongan untuk mengulas apa pun. Yang ada justru kebingungan yang tenang—dan keheranan yang pelan.
Saya melihat sebuah kabar kematian. Netral, resmi, tanpa glorifikasi. Lalu saya melihat respons manusia di balik layar: tawa, ejekan, sumpah serapah yang bahkan tidak repot menyamar. Bukan akun anonim, tapi nama asli, foto keluarga, kehidupan yang utuh. Di titik itu saya berhenti. Bukan karena saya tiba-tiba menjadi suci atau netral total. Saya tahu institusi bisa bermasalah. Saya tahu sejarah panjang kekecewaan itu nyata. Tapi kematian—siapa pun dia—selalu membawa batas yang berbeda. Ada garis yang, ketika dilangkahi, bukan lagi kritik, tapi runtuhnya empati itu sendiri.
Saya mencoba memetakan. Saya coba jujur. Di kedua sisi, saya melihat hal yang sama: manusia. Ada baik, ada buruk. Ada luka, ada amarah. Dan mungkin di situlah masalahnya—semua orang merasa lukanya paling sah untuk dibayar kontan. Kematian lalu dijadikan kembalian.
Dulu saya juga bingung. Pertanyaan-pertanyaan polos saya lahir dari kebingungan. Tapi kebingungan itu, entah bagaimana, tidak tumbuh menjadi kejam. Ia justru memaksa saya belajar duduk sebentar, menunda reaksi, dan melihat manusia sebagai manusia. Saya tidak tahu kenapa sebagian kebingungan bocor menjadi tawa yang salah tempat, sementara sebagian lain mengendap menjadi empati. Mungkin karena katup pelepasnya berbeda. Mungkin karena tidak semua orang diberi ruang aman untuk berpikir tanpa ditertawakan.
Saya sadar satu hal: jika saya memaksa berdiskusi di ruang itu, suara saya hanya akan menjadi noise. Tidak mengubah apa-apa, tidak menyembuhkan siapa-apa, hanya menggerus energi. Maka pilihan paling rasional—dan mungkin paling dewasa—adalah kembali ke lingkar kecil yang bisa saya rawat. Diri sendiri. Keluarga. Cara saya menanggapi hidup, kematian, dan manusia di antaranya.
Saya tidak ingin menang debat. Saya tidak ingin terlihat paling beradab. Saya hanya tidak ingin kehilangan sesuatu yang pelan-pelan terasa mahal: kemampuan untuk tidak bersukacita di atas wafatnya orang lain. Bahkan ketika orang itu tidak saya setujui. Bahkan ketika sistem di belakangnya problematik.
Malam ini saya memilih jeda. Bukan karena tidak peduli, tapi karena saya peduli cukup dalam untuk tahu kapan harus diam. Dan mungkin, di dunia yang terlalu bising oleh reaksi, diam yang utuh adalah bentuk empati terakhir yang masih bisa saya jaga.
Selamat malam.
0 komentar