Saya Tidak Jual Aura, Saya Jual Ketenangan (Bonus Daster)

by - 12:00 PM

Saya baru sadar, setelah batin agak rapi, ia tidak diam di dalam.

Ia bocor. Tapi bukan bocor karena retak—lebih seperti tetesan air di teko berisi es. Tidak heboh, tidak mengganggu, tapi terasa dinginnya.

Saya tidak pernah merasa pandai mengurus anak. Tidak jago momong. Tidak punya jurus khusus menghadapi manusia kecil yang tiba-tiba muntah, menangis, atau menolak logika. Tapi anehnya, anak-anak sering mendekat. Bahkan yang asing sekalipun. Mereka menyapa, mengajak akrab, seolah berkata: “oh, yang ini aman.”

Belakangan saya tertawa sendiri.
Oh… mungkin bukan soal kemampuan. Mungkin soal batin yang tidak ribut.

Anak kecil itu jujur. Mereka belum belajar sopan palsu. Kalau mereka datang, itu karena tidak mencium ancaman. Tidak ada nada menuntut, tidak ada kegelisahan tersembunyi. Dan saya paham sekarang, kenapa guru TK sering ibu-ibu yang batinnya lentur. Bisa senyum saat anak muntah. Bisa pura-pura sedih saat anak nangis, tanpa ikut tenggelam. Hadir penuh, tapi tidak larut.

Pola itu—tanpa sadar—saya bawa ke medan yang lebih absurd:
jualan daster.

Saya tidak datang sebagai badut. Saya juga tidak datang sebagai guru kehidupan. Saya datang sebagai manusia yang pertama-tama mengonfirmasi emosi. Capeknya. Beratnya. Tuntutan yang menumpuk. Baru setelah itu, saya arahkan pelan. Tidak memaksa. Tidak mendikte.

Aneh tapi nyata: transaksi jalan.

Dan saya baru paham, ini bukan manipulasi. Ini bukan sulap psikologi murahan. Ini seperti guru TK yang menunduk dulu sebelum mengajak anak berdiri. Emosi duduk dulu, baru logika mau ikut.

Maka terjadilah dua adegan yang secara logika tidak ajeg, tapi secara batin sangat rapi.

Anak kecil berteriak dari jauh:
“Misssss!”
lalu memeluk.

Emak-emak random di live berteriak dari kolom chat:
“Baaaaang…”
sambil memegang daster.

Dua dunia berbeda.
Satu pola yang sama.

Dan saya berdiri di tengahnya, bukan sebagai pusat, tapi sebagai tempat singgah yang cukup aman.

Saya tidak menjual aura.
Saya tidak memamerkan kebijaksanaan.
Saya hanya memastikan batin saya duduk dulu.

Sisanya—entah anak, entah emak-emak, entah daster—mengalir sendiri.

You May Also Like

0 komentar