Hantu Tak Betah di Orang yang Bisa Ngobrol

by - 12:00 AM

Ada satu hal yang sejak lama membuat saya heran.

Kenapa di pabrik, asrama, atau sekolah, selalu ada cerita kesurupan massal—dan anehnya, orang yang kesurupan itu orang-orang yang itu-itu saja.

Yang sering bengong.
Yang sering melamun kosong.
Yang jarang ketawa.
Yang nilainya pas-pasan.

Sementara yang cerewet, yang logis, yang doyan becanda—aman.
Hantunya lewat, nengok sebentar, lalu pergi.

Mungkin dia juga mikir,
“Ah ribet, ini orang kebanyakan mikir.”


Di asrama dulu, ada satu siswi.
Kesurupan lebih rajin daripada dapat nilai bagus.
Tatapan matanya sering kosong, badannya ada, orangnya entah ke mana.

Kalau ada kejadian kesurupan massal, dia pasti masuk daftar.
Kayak pelanggan tetap.

Sementara anak-anak yang berisik, ketawa, ribut soal hal receh—nggak pernah tuh.
Hantunya mungkin ilfeel.
Belum masuk sudah ditanyain, “Eh lu siapa? Mau ngapain?”


Belakangan saya baru paham.
Kesurupan itu bukan soal kemasukan makhluk.
Itu tubuh yang kebagian tugas ngomong, karena batinnya keburu dibungkam.

Kalau emosi nggak boleh keluar,
kalau capek nggak boleh ngeluh,
kalau marah dianggap kurang iman,
kalau sedih disuruh sabar—

Ya tubuh cari jalan pintas.

Kalau nggak bisa curhat,
ya jatuh.


Yang menarik, kesurupan jarang menyerang orang yang punya bahasa.

Orang yang bisa bilang:

“Gue capek.”
“Gue kesel.”
“Ini nggak adil.”
“Bentar, gue mau nangis dulu.”

Orang yang bisa ketawa di tengah absurd.
Orang yang bisa ngobrol sama dirinya sendiri.

Hantu, kalau memang ada, mungkin males masuk ke orang kayak gini.
Keburu disambut:

“Mas, duduk dulu. Mau kopi apa teh? Cerita dulu, jangan langsung ribut.”


Makanya saya nggak heran, konten kreator sekarang bisa mukul hantu, ngeprank hantu, bahkan ngetawain hantu.

Hantunya bukan kalah sakti.
Tapi kalah konteks.

Dunia manusia sekarang lebih absurd daripada alam gaib.

Hantu belum tentu siap lihat:

  • cicilan
  • live jualan daster
  • orang tertawa sambil capek
  • emak-emak nyapu taman walau katanya “Indonesia mau runtuh”

Hantu juga butuh libur.


Kesurupan massal sering terjadi di tempat yang:

  • tekanannya tinggi
  • rutinitasnya mati
  • hierarkinya kaku
  • ekspresi emosinya ditekan

Begitu satu orang jatuh, yang lain ikut.
Bukan karena makhluk lompat-lompat, tapi karena emosi itu menular.

Bukan tipu-tipu.
Bukan drama.
Itu mekanisme darurat.


Lucunya, budaya kita selalu butuh simbol.
Di sini: jin.
Di tempat lain: alien, roh leluhur, malaikat.

Isinya beda, polanya sama.

Yang kerasukan itu bukan tubuhnya.
Yang kerasukan itu keheningan terlalu lama.


Mungkin itu sebabnya saya relatif aman.
Bukan karena iman saya lebih tebal.
Tapi karena saya ngobrol terus.

Ngobrol sama anak.
Ngobrol sama istri.
Ngobrol sama diri sendiri.
Kadang ngobrol sama AI juga.

Rumah saya sudah berpenghuni.
Kalau hantu datang, bingung mau masuk lewat mana.


Jadi kalau ada yang tanya:

“Kenapa ada orang kesurupan, tapi saya nggak?”

Jawabannya sederhana:

Karena Anda masih pulang ke diri sendiri.

Dan hantu, sekuat apa pun,
nggak betah numpang di rumah yang isinya sudah rapi.


You May Also Like

0 komentar