Tentang Anak Sakit, Ibu, dan Rasa Aman

by - 6:00 PM

Anak kedua saya sedang sakit. Sakit yang tidak biasa, kata istri saya.

Awalnya sepele—minum es setelah renang. Tubuhnya hangat, lalu rewel. Bagi orang dewasa, rewel sering dianggap gangguan kecil. Bagi anak, itu bahasa paling jujur ketika tubuh dan batinnya tidak enak.

Ke saya, ia menolak. Maunya ke ibunya.
Sebagai ayah, saya paham. Ada otoritas aman yang bekerja tanpa perlu dijelaskan.

Masalahnya, hari itu pekerjaan sedang menumpuk. Saya mencoba menenangkan anak, gagal. Istri saya tampak kehabisan tenaga. Setengah teriak ia berkata, “Sebentar adek, ibu belum selesai.”

Tangis anak langsung pecah.
Saya ambil alih. Selesai.

Keesokan harinya, kondisinya drop parah. Kami bawa ke rumah sakit. Dokter memastikan: infeksi virus. Obat diberikan, perlahan pulih, tapi tubuhnya masih lemas terbaring.

Di situ saya bilang ke istri saya, pelan saja:
“Coba kamu minta maaf ke dia, karena kemarin kelepasan teriak.”

Ia langsung defensif.
“Segitu doang. Kan sudah selesai kemarin.”

Saya paham reaksi itu. Tidak ada ibu yang ingin merasa gagal. Tapi saya mencoba menjelaskan pelan-pelan.

Anak tumbuh dengan relasi hangat dari orang tuanya. Dari situ ia belajar luwes, sopan, berani. Tapi ada satu hal yang sering luput: batin anak sangat rapuh saat menerima agresi dari figur paling aman dalam hidupnya.

Istri saya masih berkilah.
“Masa iya segitunya?”

Saya potong dengan satu kalimat yang benar-benar saya yakini:
“Kamu harus bangga. Kamu tempat paling aman buat anak kedua kita.”

Lalu saya bercerita tentang keluarga saya. Tujuh  bersaudara, enam laki-laki 1 perempuan. Hidup keras. Makan seadanya. Kadang mencuri mangga sekadar mengganjal perut. Mode survival. Tapi urusan ibu—kami berubah jadi bayi. Menangis di kaki ibu bukan aib. Kami kuat secara fisik, tapi ringkih secara batin di hadapan ibu.

Istri saya terdiam.
“Segitunya ya?”

“Iya,” jawab saya.
“Kamu cuma dua bersaudara perempuan. Mungkin ini pertama kali melihat bentuk relasi seperti ini.”

Saya lanjutkan, “Coba saja rekonsiliasi. Bukan drama. Bukan pembenaran. Cukup bisikkan kalimat penyemangat dari ibu. Sentuhan. Kehadiran.”

Saya tunjukkan satu hal yang mungkin luput:
“Lihat saja reaksinya ke saya. Ada ketakutan kecil. Takut ibunya diambil ayahnya. Lucu, tapi itu tanda perasaan yang sensitif.”

Istri saya tertawa kecil.
“Abis itu kalau sehat, mainnya sama ayah terus. Giliran sakit ke ibu.”

“Itu memang begitu,” kata saya.
“Anak laki-laki begitu. Ayah itu teman eksplorasi. Ibu itu rumah. Kamu juga kan nggak tertarik nemenin loncat-loncat di taman, kejar kupu-kupu, atau main belalang.”

Akhirnya ia mengalah. Bukan kalah, tapi memilih.
“Yaudah. Aku urus sepenuh hati anak kedua ini. Kamu urus keperluanku.”

Saya tertawa.
Seperti biasa, saya yang jadi korban.

Tapi di situ saya sadar:
keluarga tidak runtuh oleh satu teriakan.
Keluarga runtuh kalau tidak mau memperbaiki apa pun setelahnya.

Hari itu, anak saya lebih tenang.
Istri saya lebih lembut.
Dan saya—capek, tapi tahu kami sedang berada di jalur yang benar.


You May Also Like

0 komentar