Ini Telepon Siapa Lagi Ya, dan Kok Seperti Tidak Ada yang Bertanggung Jawab?

by - 5:46 PM

Belakangan ini, ponsel saya jadi makhluk paling rajin menyapa.

Masalahnya, yang menyapa bukan keluarga, bukan kurir, bukan pelanggan.
Nomor tidak dikenal. Datang berkali-kali. Pagi, siang, sore, malam. Seperti orang yang tidak punya kesibukan lain selain menguji kesabaran saya.

Awalnya saya angkat. Diam.
Besoknya saya biarkan. Datang lagi.
Saya blokir satu, muncul tiga. Seperti main whack-a-mole, tapi hadiahnya stres ringan.

Lalu saya sadar, ini bukan kejadian pribadi. Timeline media sosial saya penuh keluhan serupa. Orang-orang bercerita menerima belasan sampai puluhan panggilan spam dalam sehari. Ada yang sampai hafal pola: nomor beda-beda, kode area aneh, waktunya acak, dan isinya nihil. Tidak jelas mau apa, tapi jelas mengganggu.

Di titik itu saya berhenti bertanya “siapa yang nelpon?”
Saya mulai bertanya: kok bisa?

Semua orang seperti sepakat: ini bukan salah satu pihak saja. Ada telemarketing, bot otomatis, teknologi VoIP, database nomor entah dari mana, dan kebiasaan kita sendiri yang terlalu murah hati membagikan nomor ponsel. Daftar ini, verifikasi itu, isi form ini, checkout pakai nomor HP. Sedikit-sedikit, tanpa sadar, nomor kita beredar seperti brosur diskon.

Yang membuat saya makin bingung, panggilan ini tidak terasa sebagai gangguan biasa. Ia terasa seperti pengingat: privasi itu rapuh.
Nomor ponsel yang dulu rasanya personal, sekarang seperti alamat rumah yang ditempel di tiang listrik.

Saya membaca pendapat pakar keamanan siber, dan rasanya masuk akal. Teknologi sudah terlalu murah dan terlalu cepat untuk disalahgunakan. Sekarang, menelepon ribuan orang bukan lagi pekerjaan mahal atau rumit. Tinggal tekan tombol, sistem yang bekerja. Manusia di ujung sana mungkin bahkan tidak tahu nomor saya ada di daftar mereka.

Dan di sini saya berhenti sejenak.
Masalahnya bukan cuma spam.
Masalahnya adalah tidak ada yang benar-benar merasa bertanggung jawab.

Operator menyarankan fitur blokir. Ponsel menyediakan blacklist. Aplikasi caller ID mencoba menebak-nebak. Pemerintah diminta tegas. Semua bergerak, tapi seperti tambal sulam. Kita diajari bertahan, bukan dilindungi sepenuhnya.

Akhirnya, beban kewaspadaan jatuh ke individu. Jangan angkat nomor asing. Jangan klik tautan. Jangan percaya tawaran manis. Jangan lengah.
Ironisnya, di era komunikasi, kita justru dilatih untuk curiga pada setiap panggilan.

Saya tidak marah. Lebih ke bingung yang tenang.
Ini bukan cuma soal telepon berdering. Ini tentang bagaimana data pribadi menjadi barang dagangan, bagaimana teknologi mendahului etika, dan bagaimana kita semua dipaksa belajar literasi digital sambil jalan, lewat gangguan yang datang berkali-kali sehari.

Sekarang, setiap kali ponsel saya berdering dan muncul nomor tak dikenal, saya tidak lagi bertanya “ini siapa”.
Saya bertanya lebih pelan:
di sistem yang seperti ini, sebenarnya siapa yang sedang menjaga siapa?

Dan pertanyaan itu, sayangnya, sering berakhir tanpa jawaban.

You May Also Like

0 komentar