Anak Tujuh Jalan, Anak Satu Kesurupan (Catatan Kecil dari Meja Makan Keluarga)

by - 12:00 AM

Saya tumbuh di keluarga dengan tujuh anak.

Bukan tujuh karakter di film kartun, tapi tujuh manusia hidup yang harus berbagi lauk, ruang, dan nasib. Ibu saya—kalau mau jujur—mengasuh kami seperti single parent, meskipun ayah ada. Bukan karena ditinggal, tapi karena hidup memang tidak memberi banyak pilihan. Kami dilepas ke alam liar versi kampung: makan ikan dari saluran air, udang dari sungai, pulang dengan lutut lecet dan perut setengah kenyang. Mode hidup kami sederhana: bertahan.

Maka wajar kalau ibu saya kadang nyeletuk, setengah bercanda setengah heran,
“Anak sekarang satu aja udah nyerah.”

Kalimat itu dulu saya angguki.
Sekarang saya mengernyit.

Karena setelah menjadi orang tua, saya sadar: medan tempurnya sudah pindah.


Di keluarga saya sekarang, pengasuhan relatif kolaboratif. Saya dan istri berbagi peran semampu mungkin. Bukan karena saya suami paling tercerahkan, tapi karena kalau tidak begitu, batin istri bisa meledak atau mengendap paksa. Dan dua-duanya berbahaya. Kami tidak membiarkan anak hidup dalam mode survival. Kebutuhan fisiknya kami siapkan, emosinya kami konfirmasi, capeknya kami dengar.

Dan di situlah saya mulai melihat perbedaan besar.

Dulu capek itu di otot.
Sekarang capek itu di kepala.


Saya sering tertawa saat melihat respons teman atau saudara yang hanya punya satu anak, ketika dibercandai kalimat netral seperti,
“Belum ada rencana nambah?”

Nadanya biasa. Pertanyaannya standar.
Tapi responsnya… seperti Suzzana kerasukan. Nada naik, muka tegang, trauma tumpah.

Dulu saya mengira itu lebay.
Belakangan saya paham.

Ternyata banyak dari mereka membesarkan anak hampir sendirian. Suaminya ada, tapi peran ayah nyaris nol. Secara fungsi, mereka seperti single parent. Jadi wajar kalau satu anak saja sudah menguras habis tenaga dan batin. Pertanyaan “nambah anak” bukan sekadar candaan, tapi seperti membuka pintu memori capek yang belum pulih.


Ironisnya, di keluarga saya justru terbalik.
Istri saya dengan sadar tidak memakai kontrasepsi dan ingin anak ketiga.

Saya yang panik.

Trauma masa kecil saya muncul pelan-pelan: banyak saudara, persaingan tidak sehat, rebutan lauk, dan saya sering kebagian ceker, kepala, dan usus. Dari sanalah lahir filsafat hidup saya tentang bertahan—filsafat ceker, kepala, dan usus. Hidup bukan soal kenyang, tapi soal kebagian.

Tapi istri saya melihat hal lain.
Ia melihat keluarga saya yang besar, tapi akur. Ia tumbuh di keluarga kecil, dua bersaudara, tapi komunikasinya kaku setelah menikah. Ia tidak mengejar jumlah anak, tapi suasana hidup.

Di situ saya sadar: kami membawa sejarah masing-masing ke dalam keputusan yang sama.


Ibu saya membesarkan tujuh anak dengan cara bertahan hidup.
Generasi saya membesarkan satu atau dua anak dengan cara menjaga hidup.

Dua-duanya capek.
Hanya bentuk capeknya yang berbeda.

Yang dulu dibayar dengan kerasnya masa kecil.
Yang sekarang dibayar dengan lelah batin orang tua.

Jadi mungkin masalahnya bukan anak sekarang lemah, atau orang tua dulu terlalu keras. Masalahnya hanya satu: standar capeknya tidak sama.

Dan setelah memahami itu, saya berhenti menertawakan “Suzana effect”.
Karena ternyata, yang kesurupan itu bukan mereka—
tapi ekspektasi kita yang belum disesuaikan dengan zaman.

Saya menutupnya dengan satu kesimpulan kecil, buat diri saya sendiri:

Kalau dulu anak ditempa dunia,
sekarang anak dilindungi orang tuanya.
Dan perlindungan itu—ternyata—tidak murah.

Saya tidak memilih siapa yang benar.
Saya hanya memilih sadar:
setiap generasi membayar harga yang berbeda untuk sesuatu yang sama—
ingin anaknya hidup, dan tidak sendirian.

You May Also Like

0 komentar