Hantu Kerja Rodi Tanpa Royalti: Sebuah Tragedi Sosial Alam Gaib

by - 6:00 PM

Ada satu makhluk yang belakangan ini nasibnya paling tragis di dunia digital, tapi jarang dibela.

Bukan buruh pabrik.
Bukan ojek online.
Melainkan… hantu konten.

Bayangkan jadi hantu di zaman sekarang.
Dulu dihormati, ditakuti, dijaga jaraknya.
Sekarang?
Diteriaki, dipukul, ditantang, ditertawakan—semua demi thumbnail.

Ironisnya, semua itu dilakukan atas nama “konten real”.


Saya ini sebenarnya penakut. Dari dulu takut hantu.
Yang benar-benar saya yakini keberadaannya pun cuma satu: di rumah nenek saya dulu. Bentuknya jelas, tangannya berbulu, jin peliharaan tepatnya. Itu pun cukup sekali seumur hidup. Setelah itu saya dan dunia gaib sepakat: cukup tahu sama tahu.

Makanya saya heran.
Konten kreator sekarang kok berani banget?

Mukul hantu.
Ngebentakin hantu.
Bercanda sama hantu.
Bahkan ada yang nawarin duel.

Padahal kalau ditarik ke logika paling dasar:
dukun sekalipun—yang ritualnya puasa, kemenyan, wirid, meditasi—nggak pernah bisa tuh mewujudkan hantu fisik full body buat kamera.
Paling banter bilang, “dia masuk ke tubuh si A.”
Dan seringnya, tubuh si A itu… acting-nya kebanyakan.

Tapi entah kenapa, di YouTube dan TikTok, hantu bisa:

  • jatuh dari plafon
  • kelempar kursi
  • kesandung kabel
  • bahkan kadang keliatan kelelahan

Ini bukan alam gaib.
Ini alam produksi.


Yang bikin saya iba sebenarnya bukan penontonnya dulu.
Tapi… hantunya.

Coba bayangin:

  • videonya tembus jutaan views
  • Adsense cair
  • endorse berdatangan

Hantunya:

  • kerja rodi
  • tampil tengah malam
  • dimaki
  • dijadiin punchline
  • mukanya dipasang di thumbnail dengan tulisan “ASLI BUKAN SETTINGAN!!!”

Dan yang paling kejam:
nggak dapet royalti.

Nggak ada kontrak.
Nggak ada fee tampil.
Nggak ada revenue share.
Nggak ada BPJS Alam Kubur.

Pantes aja banyak penampakan sekarang mukanya kaya bete.
Itu bukan aura jahat, itu kelelahan struktural.


Yang lebih lucu lagi: manusianya.
Masih percaya.

Padahal:

  • kameranya pas banget
  • angle-nya niat
  • timing-nya sinematik
  • teriakannya pas beat

Tapi tetap saja:

“Bang ini asli sih, merinding gue.”

Merindingnya karena hantu, atau karena narasi yang diulang-ulang sampai otak capek mikir?

Lucunya, ngetawain hantu itu aman.
Hantu nggak bisa klarifikasi.
Nggak bikin video balasan.
Nggak bikin thread panjang.

Paling banter…
angin lewat.

Yang bahaya itu ngetawain manusia yang pura-pura jadi hantu.
Itu bisa panjang urusannya.


Kesimpulan akhirnya sederhana:
Bukan hantunya yang mistis.
Yang mistis itu…
kenapa di zaman kamera di mana-mana, penonton masih berharap ketakutan datang dari tempat yang sama.

Dan kalau memang hantunya ada…
tolonglah, hargai dia sebagai pekerja seni.
Minimal bagi hasil.

You May Also Like

0 komentar