Ketika Dagang Online Sampai Titik Dewasa

by - 8:40 PM


Ada fase di dagang online yang tidak pernah masuk kelas webinar, tidak pernah muncul di konten “tips sukses jualan”, dan tidak cukup ditutup dengan kalimat sabar ya kak.

Fase itu datang ketika kamu sadar:
yang kamu hadapi bukan pembeli,
bukan juga komplain,
tapi manusia yang sengaja memelihara kebusukan sebagai strategi.

Polanya sebenarnya sederhana.
Sederhana sampai bikin kamu mikir, kok bisa kepikiran sejauh ini?

Seseorang membuat puluhan akun bodong.
Tampilannya cantik, rapi, foto profil kayak selebgram—padahal isinya ternak.
Akun-akun ini melakukan order seolah dropship, mengirim barang ke alamat acak.

Sebagai seller, kamu harus memproses.
SOP jalan.
Packing rapi.
Kirim.

Sehari belasan order.
Pernah tembus empat puluh.

Lalu mulai satu per satu:
retur.
Alasan: tidak merasa memesan.

Dan itu memang benar.
Yang menerima barang pun bingung.
Sebagian menolak.
Sebagian lagi—entah karena kasihan ke kurir, entah karena ART yang bayar—akhirnya transaksi tercatat berhasil.

Di titik itulah jebakan berikutnya dimulai.

Akun ternak mengajukan pengembalian.
Alasannya klise dan dingin:
isi paket tidak sesuai.

Lalu paket balik ke seller.

Isinya?

Bukan daster.
Bukan barang rusak.
Bukan salah warna.

Isinya sampah.

Sachet sabun.
Barang random.
Dan pada satu titik yang membuat batin harus direm sekeras mungkin:
diapers bekas. Bau.

Di situ saya berhenti sejenak.
Bukan karena rugi.
Bukan karena takut.

Tapi karena sadar:
ada manusia yang menjadikan kebusukan sebagai senjata.

Saya banding.
Lampirkan video packing.
Menang.

Saya banding lagi.
Menang lagi.

Dan diapers bekas itu, saya tahu persis, bukan kesalahan sistem.
Itu balas dendam.

Balas dendam orang yang gagal merusak usaha orang lain.

Saya tidak marah.
Saya tidak teriak.
Saya tidak bikin konten nangis.

Saya dingin.

Karena di titik ini, marah hanya akan memendekkan nafas usaha.
Manusia seperti ini tidak dilawan dengan emosi, tapi dengan ketertiban.

Saya rekap.
Saya petakan pola.
Akun mana ternak.
Alamat mana acak.
Jam transaksi mana mencurigakan.

Saya kirimkan ke AM marketplace.
Minta pembatalan massal.
Blokir akun.

Selesai.

Di luar sana, banyak seller baru yang mengalami hal serupa.
Mereka teriak.
Menangis.
Merasa dunia tidak adil.

Saya paham.
Saya pernah di fase itu.

Tapi mungkin karena terlalu sering berhadapan dengan akun alter, manusia dua wajah, dan kebohongan kecil yang berulang, batin saya sudah tidak kaget lagi.

Yang masih menyengat hanya satu hal:
diapers bekas itu.

Bukan karena baunya.
Tapi karena ia simbol.

Bahwa ada orang yang ketika kalah, memilih menjadi sampah.
Bukan memperbaiki diri.
Bukan mencari jalan halal.
Tapi memastikan orang lain ikut mencium busuknya.

Dan di titik itu, saya makin yakin:
berdagang bukan soal jualan.
Ia soal ketahanan batin.

Kalau mau panjang nafasnya,
jangan bawa hati ke semua medan.
Ikuti aturan.
Bergerak.
Lanjut hidup.

Sampah akan selalu ada.
Tugas kita bukan memeluknya,
tapi membuangnya dengan prosedur.

Lalu kembali live.
Ngomel dikit.
Ngobrol.
Dan jual daster lagi.

Karena justru di situlah martabat bertahan hidup diuji:
tetap jadi manusia,
meski berhadapan dengan yang memilih jadi sampah.

You May Also Like

0 komentar