Saya Sibuk Merapikan Batin, Biar Kelihatan Produktif dan Resmi
Akhirnya saya sadar satu hal yang agak memalukan tapi melegakan:
saya bukan sedang mengejar ketenangan—
saya sedang merapikan batin supaya kelihatan sibuk.
Karena di dunia orang dewasa, tenang yang tidak sibuk itu mencurigakan.
Harus ribet dulu.
Harus capek dulu.
Harus diberi nama resmi.
Dulu tenang saya liar.
Bangun tanpa tujuan.
Pikiran ngalor-ngidul tapi damai.
Sekarang tenang saya berlabel: self improvement, career path, team building.
Lebih sah.
Lebih bisa dijelaskan ke orang tua dan tetangga.
Saya menertawakan sinis saat dengar istilah: outbound, family gathering, bonding team, refresh biar kerja makin semangat.
Lucu ya. Kita capek bersama-sama, main tali, jatuh ke lumpur, teriak yel-yel—
demi satu tujuan mulia:
ketenangan bos.
Bos tenang karena usahanya maju.
Mobil berderet rapi.
Grafik naik.
Saya?
Tenang karena sudah diarahkan.
Disibukkan.
Tidak sempat bertanya: ini hidup siapa sebenarnya?
Tapi saya adil ke diri sendiri.
Saya tidak memaki.
Saya ikut gathering.
Saya ikut tertawa.
Saya ikut foto bareng sambil senyum yang dilatih.
Dan setengah bercanda, setengah jujur, saya bilang ke bos:
“Pak, boleh nggak gaji saya disamain kaya bapak?”
Bos tertawa.
Katanya logika saya bengkok.
Padahal tidak bengkok.
Cuma tidak cocok di ruangan itu.
Karena saya tahu satu hal dengan cukup pasti:
saya tidak sanggup hidup selamanya dalam posisi karyawan.
Bukan karena karyawan hina.
Bukan karena saya merasa hebat.
Tapi karena batin saya tidak cocok diarahkan terlalu lama.
Saya lebih nyaman dagang.
Berhadapan dengan emak-emak random.
Dengan emosi naik turun.
Dengan logika yang kadang jungkir balik.
Aneh ya?
Justru di situ batin saya relatif rapi.
Tenang.
Duduk.
Tidak ada yel-yel.
Tidak ada outbound.
Tidak ada jargon motivasi.
Hanya manusia capek yang ketemu manusia capek lainnya,
lalu saling bilang—secara tidak langsung:
“Ya sudah, kita jalani saja.”
Kesimpulan versi saya ke diri sendiri:
saya bukan anti kerja.
Saya hanya tidak cocok menukar ketenangan batin dengan ketenangan sistem orang lain.
Dan kalau hari ini saya memilih dagang daster,
menghadapi emak-emak medusa yang bisa berubah jadi Dewi Kwan Im,
itu bukan penurunan kelas.
Itu reposisi jiwa.
Dan untuk pertama kalinya setelah lama,
saya pulang kerja—
dengan batin yang tidak perlu dirapikan lagi.
0 komentar