Paket Saya Nyasar ke Perang Dunia Mini (Dan Akhirnya Sampai Juga

by - 2:13 PM

Saya membaca satu kabar yang membuat saya berhenti mengeluh soal paket telat dua hari.

Seorang pria di Tripoli, Libya, membeli handphone secara online tahun 2010. Paketnya baru sampai tahun 2026. Enam belas tahun. Bukan karena kurir salah belok, bukan karena alamat kurang RT/RW, tapi karena negaranya keburu jadi arena konflik militer berkepanjangan.

Di kepala saya langsung muncul dialog absurd: “Bang, paket saya statusnya apa?”
“Masih di hub, pak. Hub-nya sedang perang.”

Lucunya, yang membuat saya justru terdiam bukan lamanya penantian, tapi fakta bahwa paket itu tetap diantar. Tidak hangus. Tidak dianggap hilang. Tidak ditutup dengan kalimat sakti: “mohon maaf atas ketidaknyamanan.” Tapi benar-benar diselesaikan. Enam belas tahun kemudian.

Di titik ini, saya mulai membandingkan dengan diri sendiri.
Paket telat dua hari karena hujan deras saja saya sudah membuka chat dengan napas pendek.
Kurir salah naruh paket ke tetangga, batin saya langsung bikin film konspirasi.
Ini orang, negaranya runtuh, konflik naik turun, tapi masih bisa menerima barang yang ia beli saat Facebook masih isinya status galau.

Yang menarik, dari sisi ekspedisi, ini bukan cuma soal paket. Ini soal menyelesaikan pekerjaan.
Di tengah dunia yang penuh alasan valid—perang, konflik, embargo, ketidakstabilan—masih ada satu sistem yang bilang: “Ini belum selesai.”

Saya jadi mikir, ini mungkin bukan sekadar profesionalisme, tapi momentum. Momentum untuk bilang ke dunia:
“Lihat, kami ingat.”
Trust bukan dibangun dari slogan, tapi dari satu paket kecil yang akhirnya tiba di tangan pemiliknya, meski rambutnya mungkin sudah beruban.

Tentu saja, ini juga ironis.
Sementara di tempat lain, paket bisa hilang hanya karena “kurir resign.”
Atau status “dikirim” yang maknanya: dikirim doanya saja.

Tapi justru karena absurditas itulah ceritanya terasa manusiawi.
Bahwa di dunia yang sering berhenti di tengah jalan, ada juga yang memilih menuntaskan, walau jalannya memutar enam belas tahun dan melewati suara tembakan.

Kalau dipikir-pikir, ini juga pelajaran buat saya.
Tentang sabar, tentang sistem, tentang janji kecil yang ditepati sangat terlambat—tapi tetap ditepati.

Dan sejak membaca itu, setiap kali paket saya telat satu hari, saya menenangkan diri dengan kalimat sederhana: “Ah, ini belum apa-apa. Paket orang di Libya aja sempat nginep di perang.”

You May Also Like

0 komentar