Monolog Seorang Pendekar Lisan yang Kalah Tinju

by - 12:00 AM

Saya ini tipe manusia yang kalau disuruh berantem, lebih cocok jadi moderator.

Tangan saya terlalu sopan untuk muka orang.
Pukulan saya mungkin terasa… seperti niat baik yang salah sasaran.

Abang saya kebalikannya.
Otot dulu, pikiran belakangan.
Hobinya tawuran, spesialisasi adu tatap, argumen diselesaikan dengan rahang.

Kalau saya dan abang saya digabungkan, jadilah kami duet absurd:
saya otaknya, dia badannya.
Persis Gargantuar dan Imp di Plants vs Zombies.
Bedanya, saya bukan dilempar—saya duduk manis sambil mikir.

Lucunya, meski saya kalah tinju, saya unggul di medan lain:
medan kalimat.

Saya bisa memindahkan arah langkah abang saya hanya dengan satu paragraf yang tepat sasaran.
Bukan manipulasi jahat—ini manipulasi penuh cinta.

Misalnya begini:

“Bang…
Menolong adik itu ibadah.
Pahalanya mengalir.
Apalagi kalau adiknya capek berjalan.”

Abang saya berhenti.
Bukan karena logika—karena makna.

Dan lihatlah keajaibannya:
Gargantuar menunduk,
Imp naik ke pundak,
kami berjalan pulang dengan formasi sempurna.

Saya digendong.
Abang saya bangga.
Tuhan mungkin tersenyum kecil.


Saya sadar betul posisi saya.
Kalau ada orang ngajak ribut, saya bukan tipe yang pasang kuda-kuda.
Saya tipe yang bilang:

“Sebentar…
mari kita definisikan dulu masalahnya.”

Dan justru karena itu, saya selamat.
Karena dunia tidak selalu butuh orang paling kuat memukul—
kadang dunia hanya butuh orang yang tahu ke mana arah pukulan seharusnya dibawa.

Saya kalah tinju, iya.
Tapi saya tidak pernah benar-benar jatuh.
Karena selama ada Gargantuar yang percaya pada Imp-nya,
kami akan selalu sampai rumah—
meski jalannya jauh,
dan saya capek berjalan.

Dan kalaupun suatu hari saya harus jalan sendiri,
setidaknya saya tahu:
kepala saya kuat,
dan itu cukup.


You May Also Like

0 komentar