Kalajengking, Hantu, dan Bioskop Dosa

by - 6:00 PM

Saya hidup cukup lama dalam dunia yang penuh penjelasan instan.

Kalau ada hewan masuk rumah: kiriman.
Kalau tidur ketindihan: dipeluk hantu.
Kalau sakit lama sembuh: guna-guna.

Dan kalau bertanya terlalu jauh, biasanya paha saya yang menjawab—dengan rotan.

Beberapa waktu lalu, seekor kalajengking muncul di rumah.
Bukan di hutan, bukan di sawah—di cluster yang katanya modern.
Ia muncul begitu saja, di lantai, kecil, diam, tapi cukup untuk membuat sistem saraf saya siaga penuh.

Refleks lama langsung muncul:
Ini jangan-jangan kiriman?
Dari siapa?
Untuk apa?
Lewat mana?

Lucu ya, betapa cepatnya pikiran kembali ke jalur purba.

Tapi kali ini saya berhenti.
Saya tarik napas, lalu memilih jalur yang lebih melelahkan tapi lebih waras: logika.

Rumah saya berbatasan dengan kebun.
Tanah ini dulunya lapangan.
Kalajengking adalah makhluk tanah.
Ia bisa masuk lewat celah sekecil apa pun.
Saya membunuhnya bukan karena mistis, tapi karena takut anak saya mengira itu mainan dan tersengat.

Selesai.
Tidak heroik, tidak spiritual.
Hanya mitigasi risiko.

Saya sadar, kalau saya setuju ini “kiriman”, efeknya bukan ke kalajengking, tapi ke batin saya sendiri.
Seperti ayah saya dulu—sakit, lalu divonis diguna-guna.
Tubuhnya makin ringkih, bukan karena penyakitnya, tapi karena ketakutan yang dipercaya.

Saya tidak mau mengulang itu.
Saya memilih placebo:
Ini kebetulan. Yang penting keluarga aman. Sisanya bisa disapu, ditutup, dirapikan.

Lucunya, residu siaga tetap ada.
Ia muncul bukan sebagai keyakinan, tapi sebagai bisikan kecil.
Dan saya belajar tidak mengusirnya, hanya menggesernya pelan-pelan.

Hal yang sama terjadi dengan hantu.

Dulu saya tidak bisa bekerja dalam sunyi.
Live harus ditemani murotal.
Kerja malam harus ada suara.
Bukan karena iman melonjak, tapi karena sepi terasa mengancam.

Orang dewasa menyebutnya apa?
Takut hantu.

Sekarang saya tahu:
yang saya takuti bukan hantu, tapi gelap dan sunyi yang tidak saya pahami.

Setelah sebabnya jelas, ritual pun luruh dengan sendirinya.
Sekarang suara AC cukup.
Bahkan musik terasa seperti noise.
Bukan karena saya menjauh dari Tuhan, tapi karena saya tidak lagi berlebihan pada ketakutan.

Kadang saya tertawa di balkon, dengan kuburan Cina dan alang-alang setinggi manusia di samping rumah.
Dulu itu horor.
Sekarang biasa saja.
Tubuh belajar bahwa ia aman.

Dari situ, pikiran saya sering melompat jauh—sampai ke hal paling ditakuti manusia: yaumul hisab.

Dulu guru ngaji saya bilang:
di hari perhitungan, semua dosa akan diputar ulang.
Seperti film.

Saya yang kecil, polos, dan terlalu logis bertanya:
“Berarti nonton dosa sendiri ya bu? Kaya di bioskop?”

Plak.
Rotan mencium paha.

Bayangan saya waktu itu absurd tapi jujur:
layar besar, tanggal, jam, detail dosa.
Wudhu kurang sempurna—disiram timah panas.
Bercanda soal malaikat—dihajar.
Saya sampai mikir: waduh, nanti ketauan dong titit kecil saya waktu bocah.

Lucu, tapi juga menyedihkan.
Karena yang saya butuhkan bukan hukuman, tapi kalimat sederhana:

“Kamu sudah berusaha. Kurang sempurna tidak apa-apa.”

Kalimat yang sekarang, tanpa sadar, saya berikan ke anak saya.
Saat hafalannya kacau, saya bilang:
“Yang penting kamu sudah berusaha, kak. Bisa diulang.”

Ia senang.
Dan di situ saya sadar:
ternyata itu yang dulu saya cari.

Semua cerita ini—kalajengking, hantu, bioskop dosa—bukan tentang menertawakan iman atau meremehkan yang gaib.
Ini tentang merapikan batin, supaya hidup tidak dijalani dengan ketakutan yang salah alamat.

Saya tidak ingin menjadi manusia paling benar.
Saya hanya ingin cukup waras untuk hidup sehari-hari:
menyapu rumah, menjaga anak, berdagang daster, bercanda secukupnya, dan tidur tanpa perlu ditemani suara berlebihan.

Kalau nanti tiba giliran saya “diputar filmnya”,
saya berharap tidak ada teriakan, tidak ada rotan, tidak ada timah panas.

Cukup satu suara pelan berkata:

“Dia sudah berusaha sejauh ini.”

Dan rasanya, itu sudah lebih dari cukup.

You May Also Like

0 komentar