Kalajengking, Hantu, dan Usaha Saya Tetap Waras

by - 12:00 PM

Saya sedang berusaha hidup logis, meski jejak masa kecil sering muncul tiba-tiba seperti iklan pop-up: keras, tidak diminta, dan suka menakut-nakuti.

Beberapa hari lalu, seekor kalajengking masuk ke rumah. Bukan besar, bukan agresif, tapi cukup untuk memicu satu refleks lama: jangan-jangan ini kiriman. Refleks itu muncul cepat, nyaris otomatis, seperti otot yang sudah lama dilatih oleh cerita orang dewasa.

Dulu, saat kecil, kejadian serupa pernah terjadi. Kalajengking muncul di tengah rumah. Kami mematikannya. Orang dewasa memberi label: kiriman.
Saya mencoba logis: rumah kami dekat hutan, habitatnya memang di situ, kami yang datang belakangan. Penjelasan itu ditolak mentah-mentah. Saya diminta diam, karena “logika saya tidak logis”.

Sekarang saya tinggal di cluster modern. Tapi cluster ini berdampingan dengan kebun, dulunya lapangan dan tanah kosong. Di bawah lantai rumah saya, ya tetap tanah. Tetap dunia serangga. Jadi ketika kalajengking muncul, pikiran saya terbelah dua: satu ingin tenang, satu lagi menarik arsip lama bernama mistik keluarga.

Saya mematikannya bukan karena takut “kiriman”, tapi karena satu hal yang sangat duniawi: saya takut anak saya mengira itu mainan.

Di titik ini saya sadar, kewaspadaan saya sehat, tapi residu siaga lama masih hidup. Tubuh bereaksi lebih cepat dari akal. Pikiran mulai bertanya hal yang sama seperti dulu: dari siapa, buat apa, bagaimana caranya.

Saya hentikan.

Saya pernah melihat apa yang terjadi ketika narasi seperti ini dibiarkan hidup terlalu lama. Ayah saya sakit, lalu dibangun realitas bahwa penyakitnya adalah guna-guna. Tubuhnya yang sudah lemah, kehilangan sisa daya juangnya. Saya tidak ingin mengulang pola itu, dalam skala sekecil apa pun.

Maka saya memilih jalur yang lebih waras, meski tertatih-tatih:
ini hewan, ini kebetulan, ini bisa ditangani.

Saya menyapu rumah lebih rajin. Mengecek celah. Menutup kemungkinan jalan masuk. Hidup seperti biasa. Itu saja. Bukan heroik, tapi cukup.

Namun jujur saja, bercanda tetap muncul. Dalam hati saya bilang:
“Kalau ini salah hantu lagi, dia bakal balik sambil ngedumel: saya bawa kalajengking susah loh, nyengat pula, eh malah disalahin.”

Di situlah saya tahu: saya sudah tidak sepenuhnya berada di dalam ketakutan. Saya sudah bisa menertawakan narasinya, tanpa mengolok-olok diri sendiri.

Tetap saja, ada satu hal yang tidak saya anggap lucu: keselamatan anak.
Kalajengking itu kecil, bentuknya asing, bisa disangka mainan. Dan saya sadar, saya belum sepenuhnya paham penanganan darurat jika sampai terjadi sengatan.

Maka saya belajar hal yang sangat membumi:
jika seseorang tersengat kalajengking, langkah pertama bukan panik atau menyalahkan makhluk tak kasat mata. Yang utama adalah:

  • menenangkan korban agar racun tidak cepat menyebar,
  • membersihkan area sengatan dengan air dan sabun,
  • mengompres dingin untuk mengurangi nyeri,
  • dan segera mencari bantuan medis jika nyeri hebat, sesak, atau korban adalah anak kecil.

Tidak ada mantra. Tidak ada ritual. Hanya tindakan sederhana yang masuk akal.

Dan entah kenapa, justru di situ saya merasa lebih berdaya.

Saya tidak sedang mengikis peran jin dari dunia, saya hanya berhenti menaruh mereka di setiap sudut kehidupan. Tidak semua yang masuk rumah ingin mencelakai, sebagian hanya tersesat. Tidak semua kejadian butuh makna kosmik, sebagian cukup dibereskan.

Saya masih bisa tertawa. Masih bisa bercanda tentang republik hantu, tentang pocong yang tidak bisa tap kartu akses, atau kuntilanak yang dimarahi satpam kolam renang karena tidak pakai baju renang. Tapi tawa saya sekarang berbeda: lebih ringan, tidak lagi untuk menutup takut.

Mungkin ini yang disebut dewasa:
bukan kehilangan imajinasi, tapi tidak lagi dikendalikan olehnya.

Dan jika suatu hari nanti kalajengking lain masuk lagi, saya berharap refleks pertama saya bukan lagi “ini kiriman siapa”, melainkan:
“oke, amanin anak dulu, lalu bereskan.”

Selebihnya, hidup bisa lanjut seperti biasa.

You May Also Like

0 komentar