Tidur Tanpa Hantu, Capek Tanpa Drama
Saya baru sadar satu hal kecil yang efeknya panjang:
ternyata saya capek bukan karena hidup berat, tapi karena terlalu sering menginjak rem batin.
Nyetir cuma 15 menit ke sekolah anak, badan saya lunglai.
Padahal kalau nyetir 12 jam ke rumah mertua, saya masih bisa ketawa, nyapa tetangga, bahkan ngopi.
Awalnya saya bingung. Saya kira ini masuk angin kelas menengah atau gejala usia yang sok dewasa.
Belakangan ketemu polanya.
Di jalan dekat sekolah, saya terlalu sering mengalah:
mengalah ke pengendara ringkih tapi arogan,
mengalah ke emak-emak yang nyerobot sambil bilang “saya buru-buru antar anak sekolah”,
mengalah sambil tersenyum, tapi batin ngerem mendadak berkali-kali.
Rem batin itu bocor ke badan.
Capeknya nyata.
Bukan drama.
Bukan kerasukan.
Bukan kurang doa.
Saya cuma… kecapean.
Dulu, waktu kecil, cara menyelesaikan capek dan ribut itu sederhana:
“Tidur! Ada hantu!”
Lampu mati.
Logika mati.
Takut hidup.
Anak tidur. Selesai.
Efektif? Iya.
Sehat? Belum tentu.
Saya tumbuh jadi orang yang takut gelap tanpa tahu kenapa.
Takut, tapi tidak bisa menjelaskan takutnya dari mana.
Tubuh bereaksi, pikiran kebingungan.
Sekarang, entah karena umur atau karena terlalu sering capek, saya memilih pola lain ke anak saya.
Bukan:
“Tidur! Ada hantu!”
Tapi:
“Yuk, udah nonton YouTube-nya. Biar besok bangun seger, sekolah enak, bisa main sama teman.”
Anak tidur.
Logikanya ikut turun, bukan dipadamkan.
Saya tidak sedang mendidik anak jadi rasional tanpa emosi.
Saya cuma berusaha mengurangi kebingungan eksistensial yang tidak perlu.
Dan hasilnya muncul di momen-momen kecil yang nyentil.
Suatu malam anak saya bilang:
“Ayah, malam tahun baru di komplek kita ga nyalain petasan ya? Biar adek bayi engga kaget. Biar yang lain engga keganggu.”
Saya terdiam sebentar.
Bukan karena anak saya pintar.
Tapi karena dia melihat sebab dan akibat tanpa disuruh.
Saya jawab:
“Wah, kakak merhatiin juga ya. Ayah senang kakak bisa lihat penyebab dan akibatnya.”
Hidungnya mekar.
Bukan sombong.
Tapi merasa diakui sebagai manusia yang berpikir.
Di situ saya paham:
saya tidak sedang membesarkan anak yang selalu benar,
tapi anak yang tahu kenapa sesuatu masuk akal.
Persis seperti saya hari ini.
Sekarang, kalau capek, saya berani bilang ke istri:
“Aku capek. Mau tidur satu jam. Bangunin ya.”
Dulu saya gas terus.
Live, foto produk, gudang, antar anak, belajar, live lagi.
Kelihatannya kuat.
Padahal pelan-pelan bunuh diri.
Istri saya sempat bilang,
“Sekalian capek, selesain aja.”
Saya jawab pelan:
“Nanti aja. Kalau sekarang dipaksa, besok aku nggak bisa live.”
Dia mengangguk.
Entah peduli saya atau peduli omset.
Yang penting saya hidup.
Saya tidak berharap anak saya nanti bebas bingung.
Manusia tetap manusia.
Emosi tetap bocor.
Hidup tetap ribet.
Tapi setidaknya, dia tidak akan takut tanpa nama.
Tidak capek tanpa sebab.
Tidak disuruh diam saat tubuhnya minta istirahat.
Kalau dulu saya ditidurkan dengan hantu,
sekarang saya menidurkan anak saya dengan makna.
Dan ternyata, itu juga menidurkan diri saya sendiri—
tanpa gelap,
tanpa drama,
tanpa perlu pura-pura kuat.
0 komentar