Ketika Ibadah Tidak Lagi Takut, Tapi Pulang
Saya pernah menjadi orang yang sangat taat.
Ahli ibadah, kalau istilahnya mau dibuat rapi.
Rutinitas jalan. Hafalan ada. Disiplin terjaga.
Namun batin saya—ributnya minta ampun.
Saya beribadah karena takut.
Takut dosa. Takut lalai. Takut Tuhan marah.
Narasi kosmik tentang murka Tuhan selalu datang lebih dulu, mendahului keheningan batin saya sendiri. Seolah-olah Tuhan berdiri di belakang, mengawasi dengan daftar pelanggaran.
Lalu suatu hari saya bertanya, bukan dengan nada menantang, tapi lelah:
Untuk apa ibadah?
Toh, jika Tuhan Maha Kuasa, Ia tidak membutuhkan disembah. Jika Ia Maha Sempurna, ketidakhadiran saya pun tidak mengurangi apa pun dari-Nya.
Pertanyaan itu tidak langsung membawa pencerahan.
Ia justru membawa saya ke fase yang dingin.
Saya menjadi sinis. Membeku. Menjauh.
Padahal sebelumnya saya alim—setidaknya di mata orang.
Saya berhenti sejenak. Duduk.
Meragukan. Mengendapkan.
Tidak melawan Tuhan, tidak pula membela-Nya.
Saya hanya jujur pada batin sendiri.
Dan di situ perlahan saya menyadari sesuatu yang sederhana, tapi mengubah segalanya:
bukan Tuhan yang membutuhkan saya,
saya yang membutuhkan Tuhan—secara literal dan simbolik.
Bukan sebagai algojo moral.
Bukan sebagai hakim kosmik.
Tapi sebagai titik sandar batin.
Saya berhenti menempatkan Tuhan sebagai penghukum.
Saya berhenti bernegosiasi dengan surga dan neraka.
Itu wilayah Tuhan—jikapun ada atau tiada, saya tidak lagi memikirkannya.
Yang saya pikirkan hanya satu:
saya hadir, dan batin saya butuh tenang.
Belakangan saya tahu, para sufi menyebut fase ini sebagai lezatnya ibadah.
Saya tidak menyebutnya demikian.
Saya menyebutnya lebih jujur:
saya beribadah karena saya mau.
Tidak ada ketakutan.
Tidak ada transaksi.
Tidak ada ambisi spiritual.
Hanya kehadiran.
Ironisnya, justru di titik ini ibadah terasa paling hidup.
Tidak berat. Tidak kaku. Tidak bising.
Saya menghadap Tuhan tanpa gentar, tanpa drama, tanpa tuntutan.
Dan mungkin inilah pencapaian terbesar dalam hidup saya—
bukan menjadi ahli ibadah,
melainkan menjadi manusia yang tenang saat beribadah.
Saya akan kembali beribadah.
Bukan untuk menyelamatkan diri dari hukuman,
melainkan untuk menjaga kewarasan batin yang akhirnya lapang.
Dan itu cukup.
0 komentar